Sepekan Setelah Puncak Ngenteg Linggih Pura Ayung Dilaksanakan Prosesi Nyenuk

sepekan-setelah-puncak-ngenteg-linggih-pura-ayung-dilaksanakan-prosesi-nyenuk
Kelihan Desa Adat Bugbug, I Nyoman Purwa Ngurah Arsana sedang berdialog dengan Dalem Sidhakrya dalam prosesi Nyenuk, Senin(22/7).

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Upacara Ngenteg Linggih tingkat utamaning utama di Pura Ayung Desa Adat Bugbug telah memasuki hari ke 7 atau sepekan setelah puncak karya. Selanjutnya hari ini Senin(22/7) dilaksanakan prosesi Nyenuk, dipuput oleh Ida Pedanda Gede Swabawa Karang dari Geriya Budakeling dan Ida Pedanda Putra Tamu dari Geriya Bungaya,

Utusan Dewata Nawa Sanga, Widyadara, Widyadari dan Ardha Nare Swari mengawali prosesi Nyenuk dengan mepeed atau berjalan beriringan menuju Pura Ayung sebagai stana Dewi Sri perlambang kesuburan.

Kelihan Desa Adat Bugbug, I Nyoman Purwa Ngurah Arsana yang memimpin langsung prosesi nyenuk itu mengatakan, prosesi ritual Nyenut bisa dimaknai sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa karena seluruh rangkaian upacara Ngenteg Linggih sudah berjalan dengan baik dan lancar.

“Upacara Ngenteg Linggih dilaksanakan untuk menyucikan kembali stana Ida sasuhunan atau mensakralkan stana Ida Sang Hyang Widhi dan manifestasinya, sehingga bangunan Pura tersebut memenuhi syarat sebagai niyasa atau simbol objek konsentrasi pemujaan,” ungkap Purwa Arsana.

Sementara itu, Pangenter upacara Ngenteg Linggih pura Ayung, Jero Mangku Wayan Budiana mengatakan, upacara Nyenuk atau Mepajenuk diartikan melihat. Dalam konteks upacara Ngenteg Linggih, Nyenuk artinya ada orang yang hendak melihat upacara Ngenteg Linggih. Dimana mereka yang nyenukin itu disapa oleh penari Topeng Dalem Sidakarya.

“Para tamu yang melihat upacara itu disimbulkan sebagai utusan Dewata Nawa Sanga, Widyadara, Widyadari dan Ardha Nareswari. Masing masing tamu berpakaian berbeda beda. Misalnya dari utusan Dewata Nawa Sanga. Seperti kalau warna tridatu(Merah, Putih dan hitam) dari bala ancangan Bhatara Iswara, warna merah simbol bala ancangan Bhatara Brahma, warna kuning bala ancangan Bhatara Mahadewa dan pakaian warna hitam adalah bala ancangan dari Bhatara Wisnu,” Ungkap Jero Mangku Budiana.

Jero Mangku Budiana yang juga seorang penekun spiritual menambahkan, prosesi ritual Nyenuk ditujukan sebagai rasa penghormatan dan terimakasih karena upacara besar seperti Ngenteg Linggih dalam tingkatan utamaing utama telah usai diselenggarakan. Upacara nyenuk ini juga dimaknai sebagai sebuah simbol kedatangan tamu dari para dewata-dewati turun dari kahyangan untuk memberikan berkah atau waranugrahnya kepada semua masyarakat di Desa Adat Bugbug yang telah sukses melaksanakan upacara Ngenteg Linggih.

“Uraian mendalam tentang Ngenteg Linggih ada berbagai rujukan naskah kuno maupun Lontar yang bisa menjelaskan, seperti Lontar Wraspati Kalpa, Lontar Gama Dewa, Prasasti Mpu Kuturan Kuno, Widi Tattwa dan ada juga Dewa Tattwa. (ger/bfn)