Teropong Niskala Pilkada Karangasem (1)

*Alam Mulai Berproses, Pemimpin Serakah Akan Gugur Tergilas Perubahan

Jro Gede Mahendra

KARANGASEM,Balifactualnews.com—Pandemi Covid-19, dinilai  sebagai salah satu bentuk pemurnian alam semesta. Ini juga diakui salah seorang penekun spiritual di Karangasem, Jro Gede Mahendra.  Pria yang juga sebagai Jro Mangku di  Pura Dalem Desa Adat Karangasem ini, sempat melakukan penerawangan terhadap perjalanan Pilkada Karangasem 9 Desember tahun ini (2020).

Karangasem, kata Jro Gede Mahendra, memiliki potensi alam yang sangat baik  sekaligus berbahaya. Gunung  Agung belum benar-benar stabil dari  gangguan erupsi.  Artinya, ketika  tokoh hanya mementingkan kursi (kedudukan) semata, dipastikan akan mengalami kehancuran, sebab alam bisa mendengar semuanya.


“Karangasem daerah yang sangat suci dan sakral.  Pandemi Covid-19, menjadi pelajaran buat kita semua untuk kembali kejati diri dan mulat sarira. Wabah Corona merupakan siklus kehidupan dan sebagai bentuk pemurnian alam semesta. Siapa yang tulus mereka pasti akan mampu bertahan, sedangkan yang serakah  dengan sendirinya akan gugur tergilas perubahan,” kata pria yang akrab disapa Jro Agni, Jumat (27/11/20).

Baca : Teropong Niskala Pilkada Karangasem ( 2 )

Pilkada Karangasem, kata Jro Mahendra,   juga  menjadi  salah satu tolak ukur siklus perubahan zaman  di tengah situasi sulit seperti saat ini.   Terawang niskala yang dilakukan, orang serakah sangat tidak cocok   menjadi pemimpin di Karangasem.  Alasannya, orang serakah justru akan menguntungkan  pribadi dan sekelompok orang, sedangkan masyarakat tetap  menjadi penonton

“Ketika Karangasem dipimpin oleh sosok serakah maka Karangasem akan tetap terpuruk. Serakah itu banyak arti, serakah harta, serakah jabatan, serakah popularitas, dan serakah pujian (demen kaden),” ungkapnya.

Menurut Jro Mahendra, pemimpin yang ideal untuk Karangasem adalah  sosok yang sudah selesai dengan dirinya, sosok yang tidak lagi ingin pujian atau materi. “Selebihnya dia menjadi pemimpin atas nama menjalankan swadarma,” tukasnya. (tio/bfn)

Exit mobile version