Wang Ning si Bos Boneka Labubu Masuk Daftar 10 Orang Terkaya China

wang-ning-si-bos-boneka-labubu-masuk-daftar-10-orang-terkaya-china
Wang Ning si Bos Boneka Labubu Masuk Daftar 10 Orang Terkaya China. Foto via Gulf News.

JAKARTA, Balifactualnews.com – Forbes mencatatkan nama Wang Ning si bos boneka Labubu pendiri CEO Pop Mart International Group kini memiliki kekayaan senilai US$27,5 miliar (sekitar Rp452 triliun), sebagian besar berasal dari kepemilikan sahamnya di Pop Mart. Dengan kekayaan tersebut, ia menempati posisi kedelapan orang terkaya di Tiongkok mengungguli Jack Ma (US$26,7 miliar) dan Chen Tianshi, pendiri Cambricon Technologies (US$25,1 miliar). Wang juga tercatat sebagai miliarder termuda dalam daftar 10 besar tersebut.

Pop Mart dikenal luas sebagai perusahaan mainan yang berhasil mempopulerkan karakter Labubu, sebuah boneka monster menggemaskan dengan telinga panjang, gigi bergerigi, dan ekspresi nakal. Karakter ini tengah menjadi tren global di kalangan kolektor mainan seni (art toys), bahkan telah menarik perhatian selebritas dunia seperti Rihanna, Kim Kardashian, dan Lisa dari grup K-pop BLACKPINK.

Baca Juga : Jegeg Bagus, Cista dan Andika Inspirasi Generasi Muda Buleleng untuk Budaya dan Pariwisata

Kesuksesan Pop Mart melonjak drastis setelah merilis Labubu Mini seri 4.0 di pasar domestik. Produk ini hadir dalam 28 varian warna dengan tinggi sekitar 10,5 sentimeter dan dijual seharga 79 yuan (sekitar Rp190 ribu) per kotak. Hanya dalam hitungan menit, semua unit terjual habis melalui berbagai platform daring, termasuk WeChat dan Tmall.

Pop Mart juga telah mengumumkan peluncuran edisi mini ini ke pasar internasional, seperti Australia, Thailand, dan Amerika Serikat, mulai Jumat pagi waktu setempat.

Tahun ini, saham Pop Mart yang tercatat di bursa Hong Kong telah melonjak lebih dari 250%. Nilai kapitalisasi pasarnya kini mencapai HK$435,7 miliar (sekitar Rp921 triliun), menjadikannya lebih besar dibandingkan gabungan dua produsen mainan global asal AS: Mattel (pembuat Barbie) dan Hasbro.

Baca Juga : Pertemuan Bilateral di Beijing, Presiden Prabowo dan Presiden Xi Jinping Perkuat Hubungan Indonesia-Tiongkok

Didirikan pada tahun 2010 sebagai toko ritel kecil di Beijing, Pop Mart awalnya menjual berbagai produk tren, termasuk gadget dan mainan. Wang Ning, yang terinspirasi dari konsep toko ritel modern di Hong Kong, melihat peluang besar di segmen mainan koleksi.

Titik balik kesuksesan Pop Mart terjadi saat perusahaan memperkenalkan sistem blind box, yakni sebuah konsep pembelian kotak misteri yang membuat konsumen tertarik dengan kejutan isi di dalamnya. Strategi ini terbukti efektif menarik pasar kolektor muda dan mendorong lonjakan permintaan.

Karakter Labubu sendiri merupakan karya seniman Kasing Lung, yang mulai bekerja sama secara eksklusif dengan Pop Mart sejak 2019. Popularitas Labubu meledak tak lama setelah kemitraan ini diumumkan.

Baca Juga : Menteri Kebudayaan Apresiasi Gubernur Koster Dukung CHANDI Summit 2025, Percaya Budaya dan Tradisi Terus Tumbuh di Bali

Pada masa pandemi COVID-19, Wang Ning dengan cepat mengalihkan fokus penjualan dari toko fisik ke platform digital. Langkah ini terbukti sangat efektif dan membantu perusahaan bertahan serta tumbuh selama krisis global.

Sebagaiamana diketahui yang dilansir dari berbagai sumber, Wang Ning setelah lulus kuliah merintis Labubu melalui perusahaannya, Pop Mart, yang ia dirikan tahun 2010 sebagai toko ritel mainan di Beijing. Kini, Pop Mart telah berkembang menjadi perusahaan global dengan gerai di puluhan negara. Dengan konsep unik, strategi pemasaran yang kuat, serta pengaruh budaya pop yang terus tumbuh, Pop Mart berhasil mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin di industri mainan modern. (ina/bfn)

 

Exit mobile version