Badung  

WHDI Badung Gelar Pelatihan Pembuatan Upakara Otonan Tumpeng 7


BADUNG, Balifactualnews.com Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Badung Ni Ketut Suas Isyudayani, membuka acara pelatihan membuat Upakara Otonan Tumpeng 7 di Gedung Giri Gosana Kantor Camat Petang, Rabu (27/11/19).

Turut mendampingi Sekcam Petang I Wayan Darma, Penasehat WHDI Kecamatan Petang Ny. Kencanawati Sudarwitha, serta Narasumber dari Ketua PHDI Kabupaten Badung I Gede Rudia Adiputra dan dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Badung I Gst. Agung Istri Purwati, serta Ibu- Ibu PKK di Wilayah Kecamatan Petang.



Ketua WHDI Badung Ni Ketut Suas Isyudayani, menjelaskan, dalam rangka peningkatan Srada Bhakti bagi Wanita Hindu di Kecamatan Petang, maka WHDI Kabupaten Badung setiap tahunnya mengadakan kegiatan pelatihan bagi Wanita Hindu khususnya di Kabupaten Badung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ajaran dalam Agama Hindu dalam Adat dan Budaya Bali.

“Kami ingin menggugah rasa memiliki dan rasa bangga sebagai wanita Hindu yang memiliki budaya dan adat, yang terbalut dalam Ajaran Agama Hindu,” ungkapnya.

Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Upakara Upacara Otonan Tumpeng 7”. Tema ini diambil, karena banten otonan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari bagi semua ibu-ibu rumah tangga untuk mengingat hari kelahirannya sendiri maupun keluarga dan keturunannya secara Hindu.

“Di kehidupan bermasyarakat sebagai wanita Hindu selalu berusaha untuk mempelajari dan memperdalam agama, karena semua itu akan kita wariskan kepada para generasi muda penerus bangsa khususnya Agama Hindu” jelasnya.



Ketua PHDI Kabupaten Badung I Gede Rudia Adiputra selaku narasumber memaparkan secara umum tentang pengertian Yajnya upakara banten sesaji yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, lingkungan Pura Dadia dan di lingkungan Desa Adat. Selanjutnya tentang dasar Yadnya ada yang disebut Tri Rna yaitu tiga hutang manusia di dalam kehidupan, ada Tri Hita Karana yaitu keharmonian hubungan antara Manusia dengan Tuhan, antara Manusia dengan Manusia, dan antara Manusia dengan Lingkungan (termasuk Hewan, Tumbuhan, Panca Mahabutha).

Ada tujuan Yadnya yang merupakan aspek penting dalam beragama dengan Yajnya Sattwika sehingga umat akan mampu menuju Jagadhita dan Moksa. “Dimana dalam fungsinya Yadnya (Korban Suci) merupakan sarana bagi umat Hindu untuk memuliakan hidup diantaranya sebagai alat atau sarana menebus Rna (hutang) kepada Catur Guru, sebagai alat mendaki untuk mencapai kemuliaan di dunia, sorga atau Moksa Niskala, serta sarana untuk pembersihan diri atau penyucian diri dari ikatan duniawi secara niskala,” terangnya. (rus/ger)

Exit mobile version