Karangasem Darurat Sampah, Gus Par-Guru Pandu Siapkan Strategi Penanganan

karangasem-darurat-sampah-gus-par-guru-pandu-siapkan-strategi-penanganan
Wakil Bupati Karangasem saat meninjau kondisi TPA Linggasana, Desa Buana Giri, Bebandem.

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Sampah kini sudah menjadi momok menakutkan terhadap pencemaran lingkungan yang ada. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah berbasis sumber (sampah rumah tangga) membuat Kabupaten Karangasem mengalami darurat dalam penanganan sampah.

TPA Butus yang terletak Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem yang overload, membuat pemerintah semakin kesulitan untuk membuang sampah masyarakat yang ada di perkotaan. Himbas dari semua ini, Dinas Lingkungan Hidup Karangasem mendapatkan peringatan keras dari Kementerian Lingkungan Hidup yang berujung pada penyegelan.

“Tumpukan sampah di TPA Butus sudah berada dalam tahap kritis, dengan rata-rata 23 truk per hari dan melonjak hingga 50 ton pada hari raya. Kementerian Lingkungan Hidup sudah tidak diperbolehkan menampung sampah rumah tangga disana, kecuali sampah residu,”kata Kadis Lingkungan Hidup Karangasem, I Nyoman Tari, beberapa waktu lalu.

Tari tidak bergerak sendirian dalam penanganan sampah. Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata bersama Wabup Pandu Prapanca Lagosa terus mengeluarkan daya upaya untuk menangani sampah yang ada di wilayahnya.

Seperti dilakukan, Senin (19/5) lalu, Pemkab Karangasem melalui Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa, mulai serius dalam menangani persoalan sampah yang semakin krusial. Keseriusan ini terlihat dari langkah sigap Wabup Pandu bertemu dengan masyarakat dan perangkat desa di TPA Linggasana, Desa Buana Giri. Pertemuan itu digelar menyusul kondisi TPA Butus yang kini berada dalam pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kami (Pemerintah) saat ini tengah menyusun strategi penanganan sampah berbasis sumber. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci, terutama dalam membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah,” ujar Wabup Pandu.

Wabup menegaskan bahwa kesadaran masyarakat harus segera dibangun. Menurutnya, masalah sampah tidak bisa lagi dianggap hal sepele dan bukan semata menjadi tanggung jawab petugas kebersihan.

“Saya memiliki keyakinan yang sangat tinggi, jika dari rumah sudah dipilah, ini akan memudahkan proses pengangkutan dan pengolahan di tahap berikutnya, serta tidak terjadi penumpukan seperti sekarang,” katanya.

Sejumlah tokoh masyarakat hadir dalam pertemuan itu menyampaikan kondisi bahwa tumpukan sampah di TPA Linggasana telah terjadi selama satu dekade, bahkan sampai ditumbuhi rumput gajah. Masyarakat meminta agar sampah lama diayak untuk dimanfaatkan sebagai kompos.

Dalam pertemuan itu, masyarakat juga mendesak pentingnya peran desa adat dalam membentuk pararem pengelolaan sampah dan mendorong pemilahan dari rumah tangga.
Penolakan terhadap pengangkutan sampah ke lokasi-lokasi yang belum siap pengelolaannya pun juga disuarakan dalam pertemuan itu, karena dikhawatirkan akan menimbulkan tumpukan baru jika sampah tidak dikelola dengan baik.

Menanggapi masukan masyarakat tersebut, Wabup Pandu, menegaskan, bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Ia menginstruksikan kepada camat, lurah, dan perbekel untuk segera melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat terkait kewajiban memilah sampah dari sumbernya.

Selain itu, kata Wabup Pandu, Pemkab Karangasem juga tengah mempersiapkan pengadaan alat pengayak untuk mengolah sampah yang telah tertimbun selama bertahun-tahun. Rencana jangka menengah termasuk mendorong terbentuknya TPA mandiri di tiap kecamatan.

“Ini bukan sekadar wacana. Kami akan buktikan dengan aksi nyata. Jika sistem ini berjalan baik, ke depan dipastikan sampah tidak lagi menjadi masalah lingkungan, tapi juga dapat bernilai ekonomi bagi masyarakat,” tegas Wabup Pandu. (tio/bfn)

Exit mobile version