(Ketut Parwata/Karangasem)
MUSIK baru saja meninggi ketika lampu-lampu di sepanjang Jalur 11, Jalan Veteran, Amlapura, semakin terang. Malam Rabu (7/10/2026) perlahan mengambil alih kawasan tersebut.
Kendaraan datang dan berhenti di depan sejumlah tempat hiburan. Dari balik pintu, suara musik bercampur dengan percakapan dan tawa pengunjung. Gelas beradu, kursi bergeser. Para waitress bergerak dari satu meja ke meja lain, membawa minuman dan sesekali duduk menemani tamu berbincang.
Di tengah suasana itu, Lala, 25 tahun, perempuan asal Bandung, bercerita mengenai pekerjaannya sebagai waitress. Menurut pengakuannya, lima jam menemani seorang tamu dapat menghasilkan bayaran hingga Rp2 juta.
“Kalau cuma di-booking untuk menuangkan minuman, saya bisa dapat sampai Rp2 juta. Waktunya tidak lebih dari lima jam,” kata Lala kepada wartawan malam itu.
Lala mengaku telah sekitar dua bulan berada di Karangasem dan tinggal di kawasan Pesagi. Menurut dia, aktivitas menemani tamu tidak hanya berlangsung malam hari.
“Tidak hanya malam. Kadang siang juga ada yang booking untuk menemani minum,” ujarnya.
Ia mengatakan tamu yang ditemuinya berasal dari beragam latar belakang. Menurut Lala, sebagian merupakan pengusaha, sementara ada pula yang bekerja sebagai PNS.
Namun, angka Rp2 juta itu bukan angka yang berdiri sendiri. Dalam cerita Lala, terdapat mekanisme booking yang mempertemukan tamu dengan waitress.
Ia menyebut adanya perantara atau broker yang menghubungi waitress ketika seorang tamu datang ke kedai minuman tertentu di kawasan Jalur 11.
Lala mengaku termasuk waitress yang cukup sering dihubungi melalui pola tersebut. Wartawan mendapati aktivitas serupa berlangsung di sebuah kedai minuman yang berada di gang sempit di sekitar Jalan Veteran.
Yang menarik, transaksi semacam itu tidak meninggalkan banyak jejak administrasi.
Penelusuran wartawan tidak menemukan catatan booking maupun bukti transaksi tertulis berupa bon atau kuitansi. Nilai pembayaran dan frekuensi booking yang diceritakan para narasumber karena itu belum dapat diuji melalui dokumen transaksi.
Malam terus bergerak. Pengunjung datang silih berganti, sementara para waitress melayani meja masing-masing.
Dari luar, semuanya tampak seperti rutinitas tempat hiburan biasa. Tetapi cerita Lala membawa penelusuran ke bagian yang lebih dalam.
Menurut pengakuannya, dalam beberapa kesempatan pertemuan dengan tamu tidak berhenti di tempat hiburan. Ada tamu yang mengajaknya “singgah” ke penginapan lain.
Apakah “singgah” hanya berarti melanjutkan pertemuan? atau ada aktivitas lain setelah pintu tempat hiburan ditinggalkan?
Pertanyaan itu belum memiliki jawaban yang dapat dipastikan. Namun, cerita Lala membuka satu fakta penting dalam penelusuran ini, ada sistem booking, ada uang yang berpindah tangan, ada perantara yang disebut-sebut dan semuanya berlangsung tanpa catatan transaksi yang mudah diperiksa.
Dari sinilah penelusuran berlanjut. Sebab Rp2 juta untuk lima jam bukan sekadar angka. Ia menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana pola booking waitress berlangsung di balik riuh malam Jalur 11. **
