DENPASAR, Balifactualnews.com – Jika sebelumnya di even-even nasional baik Kejuaraan Nasional (Kejurnas), pra-PON atau PON termasuk even nasional lainnya, Tradisi raihan emas hampir selalu petarung putra yang mempersembahkan, kini giliarn petarung putri yang tampil mengkilap pada Kejurnas Tarung Derajat yang dilangsungkan di GOR Arca Manik, Bandung dan berakhir pada Selasa (20/12/2022) lalu.
Petarung putri Bali menyabet satu medali emas sehingga memperpanjang tradisi emas dunia tarung derajat Bali dalam even nasional. Meski demikian Pengprov Kodrat Bali tetap akan melakukan evaluasi
Seperti diutarakan Sekretaris Umum (Sekum) Pengprov Kodrat Bali, Agung Bagus Tri Candra Arka, satu emas diraih petarung putri I Kadek Ina Krisna Dewi di kelas 62,1-66kg. Selain sekeping emas itu, Bali juga meraih 3 keping medali perak dan semuanya di kategori putri yakni Mitayobi dikelas 45,1-50kg, Ratna Suwari kelas 58,1-62kg, dan Adnya Dana di kelas 50,1-54kg.
Diakui pria yang akrab disapa Gung Cok itu, uniknya justeru petarung putri yang lebih mengkilap karena petarung putra yang diharapkan mampu membawa pulang medali emas namun gagal, bahkan berguguran di babak awal.
“Sejatinya Bali tanpa target di kejurnas ini, tapi melihat penampilan mereka, terutama di putra ini menjadi catatan khusus bagi kami. Terutama dalam pembentukan tim Pra-PON nanti,” tutur Gung Cok yang juga Binpres KONI Bali itu di Denpasar, Kamis (22/12/2022).
Padhal lanjutnya, target Bali yang sesungguhnya adalah meraih tiket PON sebanyak-banyaknya dan minimal mempertahankan 4 medali emas yang telah diraih saat PON Papua lalu. “Kalau di Kejurnas penampilannya seperti itu, saya rasa berat untuk pertahankan 4 emas PON itu,” akuinya.
Berangkat dari semua itu, dirinya akan secepatnya mendiskusikan dan mengevaluasi dengan pelatih serta pengurus guna merencanakan program yang akan datang karena Pra-PON rencananya dilangsungka Juni 2023 mendatang.
“Apakah nantinya dilakukan perombakan tim melalui seleksi lagi atau diadakan kejuaraan. Waktu sangat mepet, apalagi ada hari raya Galungan dan Kuningan. Karena latihan intensif untuk menghadapi pra-PON itu minimal empat bulan,” demikian Gung Cok. (ena/bfn)













