KARANGASEM, Bali Factual News–Hujan disertai angin kencang yang menerjang wilayah Kabupaten Karangasem sejak beberapa hari terakhir memunculkan dampak bencana pohon tumbang.
Data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, Minggu (10/3/2024), menyebutkan, sedikitnya terdapat 16 kejadian pohon tumbang yang tersebar di sejumlah wilayah kecamatan. Di kecamatan Bebandem misalnya, bencana pohon tumbang terjadi di Banjar Dinas Liligundi dan menimpa bangunan rumah warga hingga mengalami kerusakan cukup berat. Sampai saat ini, pihak BPBD belum melakukan penanganan karena masih melakukan penanganan di tempat yang lain.
Masih di wilayah Kecamatan Bebandem, bencana pohon tumbang juga terjadi di Banjar Dinas Linggasana, Desa Bhuana Giri. Pohon berukuran besar tumbang menimpa rumah warga dan membuat akses jalan terganggu karena batang pohon melintang ke jalan.
BPBD merinci, dari seluruh musibah pohon tumbang yang ada di Karangasem, di Kecamatan Bebandem terdapat kejadian pohon tumbang, Kecamatan Karangasem, 4 kejadian pohon tumbang, Kecamatan Abang, 4 kejadian pohon tumbang. Salah satunya terjadi di Banjar Dinas Abang Kaler, Desa Abang. Pohon tumbang menimpa rumah warga mengenai bagian atap hingga menimbulkan kerugian materil sekitar Rp 10 juta.
Selain tiga kecamatan tersebut, pohon tumbang juga terjadi di Kecamatan Selat. Sementara, total laporan yang masuk ke BPBD Karangasem hingga Minggu pukul 12.00, sebanyak 16 kejadian pohon tumbang.
Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik , I Nyoman Sokowijaya, mengatakan, banyaknya bencana pohon tumbang, membuat sejumlah personel BPBD kewalahan. “Saat ini kami memiliki sembilan personel. Tapi yang ke lapangan untuk melakukan penanganan itu ada enam personel. Melihatnya banyaknya lokasi bencana yang ada maka penanganan kami lakukan dengan menggunakan skala prioritas,” ujarnya.
Penanganan skala prioritas yang dilakukan BPBD, yakni kejadian pohon tumbang yang membutuhkan penanganan cepat karena berdampak pada orang banyak. Misalnya, pohon tumbang yang menghalangi akses jalan.
“Kami berharap masyarakat bisa melakukan penanganan mandiri. Kami juga memiliki personel yang siap siaga apabila diperlukan. Mereka siap bergerak ketika penanganan memerlukan tenaga banyak. Di tengah keterbatasan personil, penanganan bencana yang dianggap urgen bisa kami tangani dengan baik,” punkas Sokawijaya. (ger/bfn)













