KARANGASEM, Balifactualnews.com–Perusahaan Perseroan Daerah Karangasem Sejahtera, awalnya dibentuk untuk mengelola semua potensi yang ada di Gumi Lahar.
Namun sayang, berbekal modal Rp 10 miliar dari hasil penyertaan modal Pemkab Karangasem, perusahaan yang sah berdiri tahun 2023 itu, baru bisa menjalankan bisnis beras.
Padahal masih banyak potensi yang bisa dikelola, seperti PLN Tenaga Surya di Kecamatan Kubu dan Pelabuhan Rakyat Padangbai, serta sektor perkebunan (pertanian), dan perikanan.
Sayang semua potensi tersebut belum mampu dikelola dengan dengan baik. Imbasnya, selain hanya menjual beras, modal puluhan miliar itu hanya bisa digunakan untuk pembayaran gaji pegawai.
Masyarakat Karangasem mulai mempertanyakan beras yang dijual Perseroda Karangasem Sejahtera itu. Pasalnya beras yang mereka jual disebut-sebut bukan bersumber dari petani, tapi berasal dari salah satu distributor beras di Karangasem.
“Mereka paling hanya hanya mengganti kemasannya saja, padahal beras itu dibeli dari distributor,” celetuk salah seorang warga yang juga terlibat dalam bisnis beras di Karangasem, Sabtu (26/10/2024).
Pernyataan warga tersebut diperkuat dari data Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Karangasem yang mencatat, bahwa hingga akhir tahun 2023, produksi beras dalam setahun di Kabupaten Karangasem mencapai 42.683,68 ton. Hanya saja, antara jumlah produksi dengan kebutuhan tidak sebanding, karena kebutuhan beras untuk Karangasem mencapai 60.534,52 ton.
Direktur Persiroda Karangasem Sejahtera, I Wayan Sutama, kepada wartawan membantah tudingan itu. Dia menegaskan, beras yang dijual itu semuanya menyerap dari hasil panen petani di Karangasem.
“Beras yang kami jual merupakan beras lokal dari petani Karangasem. Ini kami lakukan untuk meningkatkan daya saingnya karena beras Karangasem selama ini masih dipandang sebelah mata,” ungkap Sutama, seraya menambahkan baras Perseroda Karangasem Sejahtera khusus dijual untuk kalangan Aparatur Sipil Negara (tio/bfn)













