KARANGASEM, Balifactualnews.com – Suasana haru menyelimuti rumah duka Guru Pandu, Minggu (26/4). Kepergian sang ayahanda, Guru Mangku Nyoman Goya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Di tengah kesedihan itu, kehangatan hadir melalui langkah-langkah pelayat yang datang membawa doa dan empati.
Sejak pagi, rumah duka dipadati pelayat. Deretan karangan bunga dari berbagai kalangan tampak menghiasi halaman hingga sisi jalan. Ucapan belasungkawa dari tokoh masyarakat, instansi, hingga kerabat dekat tertulis rapi di setiap rangkaian bunga, seolah menjadi bahasa sunyi yang menyampaikan rasa kehilangan dan penghormatan terakhir kepada almarhum.
Keluarga besar I Gusti Made Tusan (GMT) turut hadir memberikan penghormatan terakhir. Rombongan dipimpin I Gusti Putu Parwata bersama sejumlah keluarga seperti Gusti Mamik dan Gusti Subagiartha (Gus Ode), serta I Gusti Ayu Sri Utami. Kehadiran mereka disambut hangat oleh keluarga Guru Pandu di tengah suasana duka yang mendalam.
“Kami datang sebagai keluarga, untuk berbagi duka dan memberikan kekuatan. Dalam situasi seperti ini, kebersamaan adalah hal yang paling penting,” ujar I Gusti Putu Parwata
Turut hadir mendampingi, I Gusti Ayu Mas Sumatri (istri I Gusti Made Tusan) bersama anggota keluarga lainnya seperti I Gusti Mangku Toya dan I Gusti Gede Rinceg. Kehadiran mereka menjadi simbol eratnya ikatan kekeluargaan yang tetap terjaga di tengah duka.
“Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ungkap I Gusti Ayu Mas Sumatri.
Di tengah suasana duka, Guru Pandu menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan. Meski kehilangan begitu terasa, dukungan dari keluarga dan kerabat menjadi penguat yang tak ternilai.
“Terima kasih atas kehadiran dan doa dari keluarga besar GMT. Ini sangat berarti bagi kami di tengah duka yang kami rasakan,” ucap Guru Pandu dengan suara lirih.
Hari itu, rumah duka bukan hanya menjadi tempat perpisahan, tetapi juga ruang kebersamaan. Deretan karangan bunga, doa yang mengalir, serta kehadiran yang tulus menjadi penguat bagi Guru Pandu dan keluarga dalam melewati masa sulit ini. (Ketut Parwata)













