Tari Rejang Pasepan diyakini Sebagai Penghantar Turunnya Para Dewa, Setiap Piodalan di Pura Kahyangan Jagat Desa Sangkan Gunung, Sidemen, Karangasem, Bali (Tim BFN/Pandewiyasa)
KARANGASEM—Setiap Desa Adat di Bali memiliki tarian sakral berbeda-beda dan hingga kini masih tetap lestari. Di Desa Adat Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Karangasem, juga ada tarian sakral bernama Rejang Pasepan. Tarian yang diyakini untuk menyambut kehadiran para dewa setiap Aci di Pura Kayangan Jagat di Desa Sangkan Gunung, itu hingga kini masih tetap ajeg.
Seperti pada piodalan di Pura Luhur Bukit Tegeh, Sangkan Gunung, yang puncaknya pada 20 Maret 2019 lalu. Rejang yang sangat disakralkan ini kembali mesolah (menari Red) selama piodalan, sebagai penghantar jalannya upacara di desa setempat.
Tokoh Desa Adat Sangkan Gunung, I Wayan Artha Dipa, mengatakan, Rejang Pasepan dan rentetan rejang lainnya ada di desanya, karena jaman dahulu Sangkan Gunung merupakan pusat dari sebuah kerajaan.
“Disini dulu pusat kerajaan, namanya kerajaan Sangkan Gunung dengan raja bergelar Sangkan Gunung,” jelasnya.
Menilik dari tanah kerajaan itu, Artha Dipa mengatakan, hampir semua tarian Rejang di wilayah Sangkan Gunung hingga ke wilayah Sidemen bagian selatan pakemnya sama dengan makna yang sama pula.














