Hapus Kesan Angker, Pecalang Desa Pakraman Semarapura Lakukan Ini

HAPUS KESAN ANGKER-Tampak Pecalang Desa Pakraman Semarapura membersihkan sisa-sisa persembahan umat yang mengotori areal catus pata Klungkung, saat persembahyangan Hari Raya Galungan yang baru lewat (foto:ana)

KLUNGKUNG Balifactualnews.com ,  Ada   pemandangan menarik dilakukan Pecalang Desa Pakraman Semarapura, Klungkung, saat berlangsungnya persembahyangan Hari Raya Galungan di catus pata kota Semarapura, Klungkung, Rabu (19/2/20) lalu. Para pecalang yang bertugas tidak lagi menunjukkan wajah angkernya.  Kini keramahan itu mulai tercipta, selain memberikan pelayanan kenyamanan sembahyang umat, pecalang juga melakukan aksi bersih-bersih sisa canang yang dipersembahkan umat.

“Ah ini  hanya sekadar bantu-bantu, pas kebetulan lalu lintas lagi sepi,” ucap salah seorang pecalang.

Aksi bersih-bersih  sisa canang  yang dilakukan Pecalang Desa Pakraman Semarapura, mendapat apresiasi positif dari  umat  yang kebetulan melakukan persembahyangan di perempatan agung, Klungkung itu.   Melihat  pecalang aktif  membersihkan sisa canang, umat pun menjadi malu dan  ikut  membersihkan sisa canang persembahannya agar tidak mengotori areal catus pata.

Bendesa Pakraman Semarapura,  I Wayan Budarsana,  saat dikonfirmasi media ini, mengatakan,   sejak menjabat sebagai Bendesa  di Semarapura, pihaknya berupaya untuk merubah kesan  angker yang selalu  dialamatkan kepada para pecalang.   “Pecalang tugasnya tidak hanya menjaga keamanan dan kenyamanan wilayah, juga wajib memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Budarsana.

Desa Pakraman Semarapura, kata Budarsana, melingkupi  14 banjar, semuanya berada diwilayah jantung  kota  Semarapura.  Adapun banjar adat yang menjadi lingkup Desa Pakraman Semarapura, yakni Banjar Adat Adat Sengguan, Lebah, Pande Kota,Gunung Hyang, Pande Galiran, Ayung, Mergan, Bajing, Pekandelan Klod, Pekandelan Kaler, Tangkas, Kartini, dan Bendul .

“Di sektor Palemahan, kita sudah bersepakat  dengan prajuru melakukan penataan secara bertahap.  Pecalang juga memiliki paiketan karena ada utusan dari masing-masing banjar adat, jumlahnya mencapai 42 orang,” pungkas  mantan Lurah Semarapura Kaja itu. (ana/ger)