Nyepi Adat Desa Bugbug, Penyucian Sanghyang Raja Purana


KARANGASEM Balifactualnews.com – Setelah melaksanakan Upacara atau ritual Manda kemarin, hari ini Rabu 10 Pebruari 2021 Desa Adat Bugbug melaksanakan Rahina Sipeng atau hari Nyepi manut dresta sesuai dengan adat desa setempat. Dalam brata penyepian ini, masyarakat yang tinggal di seputaran desa adat Bugbug tidak diperkenankan keluar rumah atau melakukan aktifitas lainnya diluar rumah dari pukul 06.00 Wita sampai pukul 19.00 Wita.

Pada pagi harinya sekitar pukul 04.00 Wita, para ancangan desa dan prajuru membuat sarana dan prasarana upacara, yang kemudian dilanjutkan dengan menyucikan prasasti Desa Adat Bugbug yang disakralkan yang merupakan simbul Sanghyang Raja Purana yang distanakan di panti Bale Agung. Selanjutnya pada sore harinya sebelum rahina Sipeng (Nyepi-red) berakhir, Sanghyang Raja Purana (prasati Desa Adat Bugbug) distanakan kembali ke tempat asalnya yaitu di Pura Piit. Ritual atau tradisi ini juga sebagai bentuk penghormatan dari krama terhadap sejarah Desa Adat Bugbug.

Menurut Wakil Klian Desa Adat Bugbug baga Parhyangan Jro Wayan Artana, dalam proses brata penyepian ini selain sebagai pengendalian diri, instropeksi diri juga sebagai bentuk lain dalam mengurangi polusi dan emisi karbon dioksida sebagai akibat dari aktifitas sehari hari.

“Melaksanakan brata penyepian seperti ini selain untuk mulat sarira (instropeksi diri) juga merupakan bentuk kepedulian kita terhadap alam itu sendiri, dan pada masa pandemic ini secara tidak langsung kita telah melakukan pembatasan aktifitas masyarakat,” ujarnya.

Dijelaskannya, Nyepi atau Sipeng yang dilaksanakan setahun sekali ini hampir sama dengan Nyepi Saka di Bali, berpedoman pada Catur Brata Penyepian. Tidak diperkenankan menyalakan api, bepergian dan tidak bersenang senang secara berlebihan. Sebagai dresta Desa Adat Bugbug, masyarakat yang melanggar aturan Penyepian Adat ini akan dikenakan sangsi.

“Momentum Nyepi yang bermakna sepi atau hening sebaiknya dipergunakan untuk melakukan mawas diri, tapa brata, menjernihkan pikiran agar tetap dalam koridor ajaran Dharma. Selain untuk penjernihan pikiran manusia di jaman Kaliyuga Sengara ini juga sebagai bentuk penjernihan alam semesta beserta isinya, sehingga terjadi keseimbangan bhuana agung dan bhuana alit,” urainya.

Sementara itu, pada hari Nyepi ini. Obyek objek wisata atau fasilitas umum yang ada di wilayah Desa Bugbug, seperti kawasan wisata Bukit Asah, pantai Pasir Putih, kawasan Candidasa ditutup untuk umum. (ger/bfn)