Utama  

Magma Gunung Agung Mengalir Pelan

________________________________________________________________________________

KARANGASEM – Kepala Sub Bidang Mitigasi Pengamatan Gunung Api Wilayah Timur, PVMBG, Devi Kamil Syahbana, mengatakan, magma Gunung Agung mulai mengalir pelan sejak beberapa pekan lalu. Pergerakkan yang terjadi membuat, Gunung Agung lebih sering mengalami erupsi.

“Erupsi Gunung Agung, Sabtu (18/5/19) lalu, akibat terjadinya suplay magma yang terus bergerak pelan. Setelah terkumpul banyak barulah mengeluarkan letusan,” ucap Devi dikonfirmasi, Minggu (19/5/19) siang kemarin.

Ditambahkan, potensi erupsi masih kemungkinan bisa terjadi. Baik erupsi eksplosif (strombolian) dan erupsi efusif. Sampai hari ini belum ada indikasi terjadi tekanan besar. Kubah lava di kawah relatif tak berubah. Volume lava skitar 25 juta meter kubik.

Pihaknya menghimbau warga tidak mendaki ke Gunung Agung mengingat kondisinya belum stabil. Erupsi kapan bisa terjadi tanpa melihat jumlah kegempaan yang muncul.


Baca :


“Sistem Gunung Agung sudah terbuka. Kapapun bisa erupsi,” ungkap Devy.

Pihaknya meminta warga untuk tetap tenang dan tidak panik. Warga dihimbau tetap mengikuti rekomendasi PVMBG, yakni tak beraktivitas sekitar radius 4 kilometer. Status Gunung Agung masih berada di level III (siaga), dampak radius 4 kilomter.

Sementara itu, Citra Satelit merekam, wajah kawah Gunung Agung per 18 Mei 2019 pukul 10.40 Wita, menyebutkan, bagian tengah kawah Gunung Agung (central vent) meradiasikan panas yang cukup kuat pertanda terpaparnya lava pijar dipermukaan lava.

Perekaman yang dilakukan selama 8 jam itu juga, berhasil mengamati area panas kawah berbentuk memanjang nyaris oval, dengan ukuran 180 x 250 meter, memanjang ke arah timur laut.


Elang Erlangga, dari pihak Citra Satelit mengungkapkan, sistem MIROVA juga berhasil mendeteksi energi radiasi termal yg dilepaskan oleh area panas, sebesar 52 MW.

“Titik panas pinggiran lava sama sekali tidak terdeteksi setelah erupsi 18 Mei, ini terlihat dari hasil rekaman Citra Satelit per 13 Mei lalu,” jelasnya.

Lontaran proyektil balistik pijar, kata Elang Erlangga, sebagian besar mengarah ke utara-timur laut, dan tenggara dengan rata-rata jarak lontaran 2 hingga 2,5 km dari pusat erupsi.

“Balistik pijar terjauh dan yang terlama berada pada jarak 2,9 km dari pusat erupsi mengarah ke timur laut,” ungkapnya. (ipo/tio)