KARANGASEM, Balifactualnews.com-Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, sudah berlangsung selama empat hari. Selama berlangsungnya karya, arus pemedek berjalan sangat lancar, aman dan tertib. Seperti Apa?
MINGGU 9 April 2023, ribuan umat dari Kabupaten Bangli datang melakukan persembahyangan serangkaian karya IBTK di Pura Agung Besakih. Kedatangan mereka bersamaan dengan pengayah dari Pemerintah Kabupaten Bangli yang kebetulan mendapatkan giliran nganyarin karya IBTK yang akan mesineb Rabu (26/4/2023) mendatang. Selain dari Bangli, umat yang melakukan persembahyangan, juga ada dari Jembrana, Singaraja, dan daerah lainnya di Bali.
Pantauan di lapangan, arus pemedek berjalan lancar dan tertib. Setiap persimpangan jalan terlihat petugas dari institusi kepolisian, TNI, Dinas Perhubungan dan Satpol PP berjaga. Rekayasa arus lalu lintas selama karya IBTK, semua kendaraan masuk dari satu jalur, baik datang dari arah Klungkung, Karangasem dan Batur (Bangli) semuanya melalui simpang tiga kantor Camat Menanga menuju Besakih.
Kendaraan bus seluruhnya parkir di terminal Kedungdung, sedangkan untuk keluarnya kembali ke jalur semula atau pintu masuk utama. Sementara untuk kendaraan roda empat dan roda dua, seluruhnya parkir di Manik Mas dan keluarnya melalui melalui simpang tiga Poh Udang menuju Batusesa atau Yeh Sah. Sedangkan khusus untuk panitia sulinggih yang bertugas muput upacara, diijinkan melalui jalur Pura Dalem Puri dan parkir di areal lahan parkir yang ada di Batumadeg dan Pura Suci. Dam untuk keluarnya melalui jalur Batumadeg menuju Kayu Padi dan Teges.
Pengaturan lalu lintas dan fasilitas parkir yang sangat mewah yang disiapkan di kawasan suci Pura Agung Besakih, mendapat reaksi positif dari pemedek. “Baru kali ini karya agung sebesar ini tidak ada kendaraan yang mengalami antrian panjang (macet) di jalan. Pengaturan arus lalu lintasnya sangat bagus. Parkirnya terpusat di Manik Mas, dan pintu keluarnya melalui jalur samping (Batusesa), ini juga yang membuat arus lalu lintas pemedek lancar dan tertib,” kata Made Parwika, pemedek asal Jembrana.
Parwika sembahyang serangkaian IBTK di Pura Agung Besakih dari Denpasar. Dia juga sangat memuji upaya yang dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster dalam menata kawasan suci Pura Agung Besakih.
“Astungkara pedagang lapak yang biasanya berjualanan dekat pura sudah ditertibkan dan dipindahkan ke los atau kios yang lebih bagus, toilet yang ada di kawasan suci Pura Agung Besakih juga sangat bersih. Sekarang suasana pura jauh lebih bersih dan tidak semrawut lagi seperti dulu,” jelas pria yang mengaku bekerja di sektor swasta itu.
Nyoman Bawa, pemedek asal Banjar Blumbang, Kelurahan Kawan, Bangli juga melontarkan hal yang sama. Dia mengaku sangat mengapresiasi kebijakan gubernur Wayan Koster terkait larangan membawa bahan plastik sekali pakai saat tangkil ke Pura Agung Besakih. “Sebagai orang kecil, saya sangat mendukung kebijakan Bapak Gubernur ini. Dari tadi saya amati tidak lagi ada tas kresek masuk ke Pura. Ini patut diapresiasi. Mudah-mudahan hal baik ini bisa terus berjalan selamanya, sehingga kesucian Pura Agung Besakih tetap bisa terjaga,” kata pria berpostur gempal yang mengaku bekerja sebagai Satpam Rumah Sakit Bangli itu. (tio/bfn)













