Foto tim BFN/Wijanatha
________________________________________________________________________________
KARANGASEM – Belasan warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan mengenakan kamben bulet ginting dengan tubuh telanjang. Sambil membawa daun pandan berduri, mereka berkumpul di depan Bale Patemon Kaja, mengikuti ritual mekare-kare (megeret Pandan), Senin (24/6/19) siang kemarin.
Bendesa Adat Tenganan I Wayan Sudarsana, ditemui sebelum ritual tersebut, mengatakan, mekare-kare (perang pandan) merupakan bentuk penghormatan warga Tenganan terhadap Dewa Indra sebagai dewa perang. Upacara
“Perang Pandan terkait Usaba Sambah merupakan aci terbesar. Aci ini digelar satu bulan penuh sejak akhir bulan Mei hingga bulan Juni,” ucapnya.
Usaba Sambah, lanjut dia dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dilaksanakan sebanyak dua kali dan satu kali di bulan Juli, dengan hitungan ulan menggunakan kalender khusus yang dimiliki Desa Adat Tenganan.
Pantauan dilapangan, sebelum Perang Pandan dimulai, diawali dengan sangkepan Desa. Dimana warga Desa Tenganan duduk bersila di Balai Desa sambil didampingi jajanan. Siang kemarin juga dilakukan upacara Di Deha dengan Nuur Ida Batara di Pura Kubu Langlang, Naga Sulung dan dan Tegal Gimbal. Tiga Pura tersebut ada diatas bukit.
“Ida Batara ini metuur setiap Ngusaba Sambah dan mesandekan di Asrama Deha oleh Subak Desa. Penuur sendiri dilakukan Deha dan Taruna Tenganan,” unkapnya.
Sangkepan sebelum Makare juga diikuti semua soroh yang ada di Tenganan. Diantaranya ada Pande dan Pasek. Menurut Suardana, Pande dan Pasek ini memang tidak masuk asli warga Tenganan. Mereka ini didatangkan ke Tenganan pada jaman dulu dengan tugas tertentu. Untuk diketahui di Tenganan sudah ada Sembilan soroh. Pande ini didatangkan dengan tugas membuat pisau dan alat alat dapur. Sementara Pasek mendapat tugas untuk memelihara Babi jantan hitam.
“Pande dan Pasek didatangkan tetua dulu dari luar Desa. Sekarang ini mereka sudah bermukim di Tenganan. Warga Pasek dan Pande ini diberikan tanah tempat tinggal dan rumah oleh Desa,” terangnya.
Sementara mereka ini juga wajib ikut aktifitas keagamaan di Tenganan. Hanya saja mereka ini memang tidak mendapat hak penuh dari pengasilan Desa, namun hanya separuhnya, beda dengan warga asli Tenganan.
Dikatakan, warga Tenganan wajib memelihara babi hitam jantan, karena semua kebutuhan upacara adat menggunakan babi jenis itu. “Babi pejantan ini selalu digunakan sebagai sarana upacara dari manusia yadnya sampai pitra yadnya,” ungkapnya.
Sementara soroh tenganan asli adalah Sanghyang, Bendesa dan Prajurit. Bendesa sendiri saat bertugas memimpin upacara keagamaan di Tenganan sebagai Pemangku. Sementara untuk soroh lainya sudah tidak banyak yang menjalankan fungsinya seperti Prajurit.
“Perang pandan juga melambangkan ketulusan. Sehingga tidak ada dendam apalagi emosi. Semua dilakukan dengan suka cita. Mereka ini meyadnya dengan mengorbankan badan mereka di geret dengan pandan berduri,” ujarnya.
Tak sembarang daun pandan yang digunakan dalam ritual itu. Padan ini khusus dikeluarkan para teruna Desa. Masing masing Trunna Desa mengeluarkan daun pandan 200 lembar. terkadang sama sama 200 lembar,” ujarnya.














