Daerah  

Cegah Inflasi Jelang Nyepi, BI Bali Lakukan Upaya Ini


DENPASAR, Balifactualnews.com – Guna mencegah inflasi akibat tingginya permintaan beberapa komoditi kebutuhan pokok di Pulau Dewata jelang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1943, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali melakukan koordinasi dengan TPID Bali.

Deputi KPwBI Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda, didampingi Deputi Direktur KPwBI Provinsi Bali, Donny H. Heatubun, serta Manager KPwBI Propinsi Bali, Remon, dalam acara Capacity Building Media, di Denpasar, Selasa 9 Maret 2021 menjelaskan, untuk komuditi barang yang sering mengalami inflasi saat hari raya di Bali seperti canang sari, cabai rawit, daging babi dan bawang merah.

Agar potensi inflasi yang disebabkan cabai rawit merah tidak semakin tinggi, pihaknya menyarankan masyarakat mengurangi dari sisi “demand” atau permintaan dengan mengganti jenis cabai yang lain seperti cabai rawit hijau yang harganya tidak begitu tinggi.

Saat demand turun, lanjut dia, harganya otomatis akan turun. Selain itu, tentu dengan menambah pasokan. masyarakat dapat melakukannya dengan mulai turut menanam cabai rawit merah dengan memanfaatkan halaman rumah maupun lahan kosong.

“Saya mengimbau masyarakat mengganti cabai rawit merah dengan cabai jenis lainnya serta menambah pasokan barang dari luar Bali,” katanya.

Langkah lainnya, untuk menekan inflasi dengan memanfaatkan lahan kosong untuk menanam cabai dan kerja sama antar dengan daerah lainnya agar bisa memasok komoditi yang menjadi permintaan masyarakat lebih banyak.

Dibandingkan Tahun 2019 pada periode yang sama menjelang Perayaan Nyepi, kata Rizki, ada empat hingga lima komoditas yang mempengaruhi inflasi diantaranya telur ayam. “Kalau sekarang yang naik menurut pemantauan petugas kami di lapangan seperti cabai rawit merah yang saat ini harganya mencapai Rp 120 ribu, daging babi dan bawang merah,” katanya.

Terkait kondisi ekonomi Bali saat ini, dikatakan, menunjukkan adanya perkembangan positif, meskipun polanya masih melandai. Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan IV 2020 tumbuh -12,21% (yoy), sedikit membaik dibanding triwulan III 2020 yang mencapai -12,32% (yoy). Dari sisi perkembangan harga, Provinsi Bali mengalami deflasi -0,15% (mtm) pada Februari 2021.(rus/ger/bfn)