Dari Kulit Salak, Gusti Ayu Satwika Dewi Menantang Batas Inovasi

I Gusti Ayu Satwika Dewi
I Gusti Ayu Satwika Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes.,

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Tidak semua inovasi lahir dari laboratorium dengan peralatan mahal. I Gusti Ayu Satwika Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes., justru melihat potensi dari sesuatu yang selama ini dianggap limbah kulit salak Bali.

Perempuan asal Celuk Negara, Kelurahan Karangasem, ini merupakan Pranata Laboratorium Kesehatan Ahli Pertama pada UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem. Di tengah tugasnya sebagai aparatur dan akademisi, Satwika membangun inovasi digital TBC (Tuber Coloce).

Inovasi terbarunya mencoba membawa potensi lokal masuk ke ruang penelitian. Kulit salak Bali dikembangkan sebagai bahan dasar penelitian terkait bakteri. Progresnya kini sekitar 30 persen. Memang belum selesai, tetapi justru dari proses itulah sebuah gagasan besar sedang dibangun.

“Saya ingin melihat potensi yang ada di sekitar kita tidak berhenti sebagai sesuatu yang dianggap biasa atau bahkan limbah. Kulit salak Bali memiliki potensi untuk dikembangkan dan diteliti lebih jauh. Mungkin prosesnya masih 30 persen, tetapi saya percaya inovasi memang harus dimulai dari keberanian untuk mencoba,” ujar Satwika ditemui usai menjalani tesa wawancara ASN Inspiratif dari Tim Independen, Jumat (30/10).

Baginya, inovasi bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru. Lebih dari itu, inovasi harus memiliki manfaat dan mampu menjawab persoalan.

“Bagi saya, inovasi bukan tentang siapa yang paling cepat menciptakan sesuatu, tetapi bagaimana sesuatu yang kita ciptakan bisa memberi manfaat. Saya ingin apa yang saya kerjakan di laboratorium, di dunia pendidikan, maupun melalui inovasi digital bisa memiliki dampak bagi orang lain,” katanya.

Di luar tugasnya di laboratorium, Satwika juga aktif sebagai dosen. Ia membangun komunitas Kombel (Kelompok Belajar) sebagai ruang berbagi pengetahuan, berdiskusi, dan mendorong tumbuhnya budaya belajar.

“Saya percaya pengetahuan akan lebih berarti ketika dibagikan. Karena itu saya membangun Kombel sebagai ruang untuk belajar bersama. Tidak harus selalu formal. Yang penting ada kemauan untuk berbagi, bertumbuh, dan saling menguatkan,” ungkapnya.

Jejak pengabdian dan inovasi itulah yang mengantarnya masuk lima besar seleksi ASN Inspiratif Kabupaten Karangasem yang dilaksanakan BKPSDM. Setelah melewati tahapan seleksi, Satwika bersama empat kandidat lainnya mengikuti tes wawancara oleh tim independen, meliputi Praktisi, Akademisi dan Wartawan.

Kini, lima besar menghadapi tahapan berikutnya, yakni wawancara bersama Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata dan Sekda Karangasem I Ketut Sedana Merta untuk menentukan tiga besar ASN Inspiratif.

Satwika sadar, masuk lima besar bukanlah garis akhir. “Masuk lima besar tentu menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi saya. Tetapi saya tidak ingin berhenti di sini. Bagi saya, yang terpenting adalah tetap bekerja, belajar, dan memberikan manfaat. Kalau kemudian dipercaya melangkah ke tahap berikutnya, tentu itu menjadi tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik,” tuturnya.

Dari laboratorium, ruang kelas, komunitas belajar, hingga kulit salak Bali, Satwika sedang menunjukkan bahwa inspirasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang, inspirasi tumbuh dari sesuatu yang sederhana—ketika seseorang mau melihatnya dengan cara yang berbeda. Selamat berjuang menuju tiga besar, Satwika. Jangan berhenti berinovasi. (tio/bfn)

Exit mobile version