KARANGASEM, Balifactualnews.com – Sampah selama ini identik dengan sesuatu yang harus dibuang. Namun di TPA Linggasana, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, cara pandang itu mulai dibalik. Sampah organik tidak sekadar ditumpuk, tetapi dicacah, difermentasi, lalu diarahkan menjadi pupuk organik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karangasem, I Made Wiguna, , memantau langsung proses pengelolaan sampah tersebut. Di lokasi, sampah terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya, terutama plastik dan organik.
Sampah organik yang terkumpul kemudian masuk ke mesin pencacah. Hasil pencacahan inilah yang selanjutnya menjadi bahan untuk proses pengolahan berikutnya.
“Ini salah satu hasil dari pencacahan sampah organik. Sampah organik kita kumpulkan di sini,” ujar Wiguna saat menunjukkan hasil pencacahan di TPA Linggasana, beberapa waktu.lalu.
Tidak berhenti pada pencacahan. Setiap bulan, bahan organik tersebut akan dicampurkan dengan kotoran sapi untuk kemudian menjalani proses fermentasi.
“Nanti setiap bulan baru kita ada proses pencampuran dengan kotoran sapi. Baru nanti difermentasikan yang akan langsung bisa dijadikan pupuk organik,” jelasnya.
Proses itu memperlihatkan satu hal penting: sampah sebenarnya tidak selalu berakhir sebagai sampah. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah organik dapat kembali ke siklus kehidupan dalam bentuk yang lebih bermanfaat.
Di titik inilah pemilahan menjadi sangat penting. Sampah organik yang tercampur dengan plastik dan material lain akan lebih sulit diolah. Sebaliknya, ketika dipisahkan sejak awal, sampah organik memiliki peluang untuk diolah menjadi kompos atau pupuk organik.
Karena itu, Wiguna mendorong perubahan perilaku dimulai dari sumber sampah, terutama rumah tangga.
“Jangan semua sampah dicampur lalu baru berharap bisa diselesaikan di TPA. Kalau masyarakat sudah memilah sejak dari sumbernya, tentu proses pengelolaannya jauh lebih mudah,” tegasnya.
Apa yang dilakukan di Linggasana menjadi gambaran bahwa persoalan sampah tidak semata-mata soal tempat pembuangan. Ada peluang ekonomi, manfaat lingkungan, dan nilai edukasi yang bisa lahir dari sampah ketika dikelola dengan benar.
Dari sesuatu yang dianggap tidak berguna, lahir sesuatu yang bisa menyuburkan tanah. Dari sampah menjadi pupuk. Dari kebiasaan memilah, tumbuh kesadaran menjaga lingkungan.
“Jangan buru-buru membuang. Pilah dulu. Sebab, bisa jadi yang kita anggap sampah hari ini adalah bahan yang berguna untuk hari esok, tandasnya. (tio/bfn)
