Oleh: Ketut Parwata
BUKU TRIPLE B—Birokrasi Bisik-Bisik mungkin seharusnya berhenti pada huruf B ketiga. Tetapi setelah dibaca Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, muncul satu huruf lagi: B4.
Bukan sekadar kelanjutan judul. B4 adalah cara lain melihat birokrasi yang gemar berbisik.
Gus Par tidak menolak birokrasi bisik-bisik. Justru sebaliknya. Bagi seorang pemimpin, bisikan yang membawa fakta bisa menjadi alarm. Ia dapat membuka mata terhadap persoalan yang tidak selalu muncul dalam rapat atau tertulis di atas meja.
Yang ditolak adalah ketika bisikan berubah menjadi berisik.
“Saya sebagai pemimpin tidak menolak birokrasi bisik-bisik yang membawa fakta. Tapi saya menolak Birokrasi Bisik-Bisik yang Berisik,” katanya.
Di titik itu, Tripel B menemukan cermin baru.
Sebab persoalan birokrasi bukan sekadar ada orang yang berbisik. Persoalannya muncul ketika fakta tidak disampaikan dengan keberanian, tetapi berubah menjadi prasangka. Beredar dari satu meja ke meja lain, dari satu telinga ke telinga berikutnya, hingga akhirnya menjadi kegaduhan. Sementara kebenaran justru semakin kabur.
Birokrasi membutuhkan keberanian untuk mengatakan yang benar, bukan keberanian untuk membicarakan orang lain di belakang.
Bagi Gus Par, kebenaran harus disampaikan dengan keberanian dan dijadikan kompas moral dalam mengambil keputusan. Bukan disimpan dalam diam, apalagi disebarkan sebagai prasangka.
Pesannya sederhana, tetapi tidak ringan: dengarkan semua pihak, tetapi putuskan berdasarkan fakta dan aturan. Bangun kepercayaan, tetapi jangan lepaskan pengawasan. Hargai loyalitas, tetapi jangan biarkan loyalitas menutupi kesalahan. Berikan ruang bagi kritik, karena kritik yang jujur justru dapat menyelamatkan organisasi.
Dan yang paling penting, jaga integritas agar kekuasaan tetap menjadi alat pengabdian, bukan alat kepentingan pribadi.
Maka, dari Tripel B ke B4, pertanyaannya bukan lagi siapa yang berbisik. Tetapi apa yang dibisikkan, apakah itu fakta, dan untuk apa disampaikan?
Sebab sebuah bisikan bisa menjadi alarm bagi pemimpin. Namun ketika bisikan kehilangan fakta, ia hanya menjadi kebisingan.
Dan birokrasi yang terlalu berisik sering kali bukan sedang mencari kebenaran, melainkan sedang kehilangan arah.
Mungkin itulah pesan terakhir Gus Par kepada Tripel B: jangan takut pada bisikan yang membawa fakta. Takutlah ketika fakta tidak lagi berani dibisikkan. **
