DED Sudah Dirancang, Reklamasi Kawasan Pantai Candidasa Direncanakan Awal Tahun Depan

ded-sudah-dirancang-reklamasi-kawasan-pantai-candidasa-direncanakan-awal-tahun-depan
Kawasan pantai Candidasa, Karangasem Bali

Foto: Kawasan Pantai Candidasa hinga Buitan akan di reklamasi

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Reklamasi atau penambahan suplai pasir (beach nourishment) di kawasan pantai Candidasa, Karangasem sepertinya segera terealisasi. Pihak JICA sebagai penyuplai dana dan bekerjasama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) saat ini sudah rancang Detail Engineering Design (DED). Rencananya, reklamasi pantai kan dilakukan sepanjang 5 kilometer, mulai dari pantai Candidasa sampai Pantai Buitan, Manggis.

Kabid Sumber Daya Air (SDA), Dinas PUPR dan Perkim, Kabupaten Karangasem, I Made Wiguna, mengungkapkan, proyek nourishment rencana dikerjakan tahun 2024 mendatang.

“JICA dan BWS sudah berkoordinasi untuk menuntaskan DED. Panjang pantai yang akan di reklamasi sekitar 5 kilometer. Besaran anggaran yang terserap kami tidak tahu, karena Dinas PUPR dan BWS sebatas berkoordinasi saja,”ungkap Wiguna, kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, sistem nourishment merupakan penambahan suplai pasir di beberapa titik pantai yang sudah mengalami erosi. Tujuannya mengembalikan pantai seperti tahun 1979 hingga tahun 1980.

“Proyek ini juga bertujuan untuk mengantisipasi terjadi abrasi di Karangasem. Mengingat daerah pesisir Pantai Buitan hingga Candidasa merupakan yang banyak dikunjungi wisatawan berpotensi terjadi abrasi,” katanya.

Proyek besar ini, kata Wiguna, secara langsung dapat mengurangi daerah rawan abrasi di Karangasem . Garis pantai di Karangasem yang berpotensi abrasi tersebar di Kecamatan Kubu, Karangasem, Manggis, dan Kecamatan Abang. Sedangkan desa yang daerahnya rawan abrasi yakni Candidasa, Jasri, Tumbu, Antiga Kelod, Buitan, Bugbug, Purwa Kerti, Bunutan, Pertima, Batu Ringgit, Tulamben, Tianyar Barat, Tianyar, dan beberapa desa yang lainnya.

“Dari 85 kilo panjang pantai yang dimiliki Kabupaten Karangasem, sekitar 31 kilometer sudah terancam abrasi karena belum ada revetment. Sedangkan sisanya 54 kilometer sudah memiliki pengaman. Seperti ada revetment, tanggul, serta karang,” pungkasnya (ger/bfn).

Exit mobile version