KARANGASEM, Balifactualnews.com – Gemerlap pesta rakyat yang berlangsung selama empat hari akhirnya mencapai puncaknya. Karangasem Festival 2026 resmi ditutup oleh Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta di Taman Budaya Kapten A.A. Made Karang Candrabuana, Senin (22/6) malam.
Namun, lebih dari sekadar seremoni penutupan, festival yang menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi ke-386 Kota Amlapura ini meninggalkan catatan penting, yakhi budaya mampu menjadi penggerak ekonomi rakyat.
Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati arena festival, Giri Prasta memberikan apresiasi khusus kepada kepemimpinan Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata (Gus Par) dan Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa (Guru Pandu). Menurutnya, tema Hari Jadi Kota Amlapura tahun ini, “Tidak Mudah, Tapi Harus Bisa”, tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan dalam kerja nyata.
“Tema bisa dibuat dengan kata-kata yang indah. Namun memaknainya membutuhkan kepemimpinan yang kuat. Saya melihat Gus Par dan Guru Pandu mampu menerjemahkan semangat ‘Tidak Mudah, Tapi Harus Bisa’ menjadi aksi nyata melalui Karangasem Festival,” ujar Giri Prasta.
Apresiasi tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan laporan panitia, selama pelaksanaan festival sejak 19 hingga 22 Juni 2026, sebanyak 32 stan UMKM mencatat transaksi mencapai Rp358,37 juta. Sementara 85 pelaku usaha kuliner membukukan omzet sebesar Rp1,087 miliar. Secara keseluruhan, perputaran ekonomi yang tercipta selama festival mencapai Rp1,446 miliar.
Angka tersebut menjadi bukti bahwa festival budaya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang tumbuh bagi ekonomi kerakyatan.
Bupati Karangasem, Gus Par, menegaskan Karangasem Festival dirancang sebagai ruang bersama yang mempertemukan seni, budaya, kreativitas, pariwisata, dan pelaku usaha lokal dalam satu panggung besar.
“Festival ini harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mampu memperkuat UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan,” tegasnya.
Bagi Gus Par, tema “Tidak Mudah, Tapi Harus Bisa” merupakan refleksi perjalanan masyarakat Karangasem dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, ia meyakini setiap hambatan dapat diubah menjadi peluang kemajuan.
“Perjalanannya memang tidak mudah. Tetapi jika dilakukan bersama-sama, kita pasti bisa,” ujarnya.
Malam penutupan berlangsung meriah. Rangkaian acara diawali penampilan Tari Puspa Hredaya, pemutaran video capaian pembangunan daerah, pertunjukan Wayang Sunar, penyerahan penghargaan berbagai lomba, hingga peresmian nama Taman Budaya Kapten A.A. Made Karang Candrabuana yang bertepatan dengan Hari Jadi Kota Amlapura ke-386.
Suasana semakin semarak saat Bupati dan Wakil Bupati Karangasem melakukan pemotongan tumpeng dan penyalaan kembang api yang menghiasi langit Amlapura.
Puncak kemeriahan terjadi ketika Donie Sibarani tampil menghibur masyarakat. Di tengah penampilannya, mantan vokalis Ada Band tersebut mengundang Raina Iswari, gadis tunanetra asal Bebandem, untuk bernyanyi bersama membawakan lagu “Lagu Terbaik”. Penampilan penuh haru itu langsung disambut tepuk tangan panjang dari ribuan penonton yang memenuhi arena festival.
Empat hari perayaan akhirnya ditutup dengan satu kesimpulan penting: ketika budaya, kreativitas, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat berjalan seirama, maka sebuah festival bukan hanya menjadi perayaan, melainkan motor penggerak ekonomi dan kebanggaan daerah.
Karangasem Festival 2026 pun menjadi bukti bahwa semangat “Tidak Mudah, Tapi Harus Bisa” bukan sekadar tema, melainkan energi kolektif yang menggerakkan Karangasem menuju daerah yang AGUNG — Aman, Gigih, Unggul, Nyaman, dan Gemah Ripah Loh Jinawi. (tio/bfn)
