KARANGASEM, Balifactualnews.com – Kisah perjuangan Kapten (Anumerta) Anak Agung Made Karang Candra Buana kembali diangkat menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sosok pejuang muda asal Puri Kaleran, Karangasem, tersebut ditampilkan dalam Pameran Pembangunan HUT ke-81 RI di Taman Budaya Candra Bhuana.
Puri Kaleran menampilkan dua foto Kapten A.A. Made Karang Candra Buana dalam pameran tersebut. Kehadiran dua foto itu menjadi bagian dari upaya keluarga Puri Kaleran untuk mengenalkan kembali sosok dan sejarah perjuangan pejuang muda Karangasem kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Baca Juga : Taman Budaya Candra Buana Resmi Berganti Nama Menjadi Taman Budaya Kapten A.A. Made Karang Candrabuana
Kapten A.A. Made Karang Candra Buana gugur dalam pertempuran melawan pasukan NICA di Desa Poh, Budakeling, pada 16 Agustus 1947. Ia gugur tepat sehari sebelum peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI.
Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, A.A. Gede Suryawisesa, mengatakan penampilan foto tersebut bukan sekadar bagian dari pameran. Lebih dari itu, menjadi media untuk mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki sejarah panjang dan dibayar dengan pengorbanan para pejuang.
Foto : Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, A.A. Gede Suryawisesa saat nengamati foto Pahlawan Kapten A.A. Made Karang Candra Buana yang ditampilkan dalam pameran pembangunan Hut ke 81 RI di Taman Budaya Candra Buana
“Sejarah perjuangan ini harus terus dikenalkan kepada generasi muda. Kami ingin mereka mengetahui bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak datang begitu saja, tetapi melalui perjuangan dan pengorbanan para pejuang,” ujar A.A. Gede Suryawisesa, pada Jumat(14/8).
Menurutnya, A.A. Made Karang Candra Buana lahir pada 1927 dari pasangan Anak Agung Wayan Karang dan Mekele Wanasari asal Purwa Ayu, Kemuda, Karangasem. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Sejak kecil, perjuangan telah menjadi bagian dari cerita yang diwariskan di lingkungan Puri Kaleran. Para putra puri dibesarkan dengan kisah heroik leluhur yang pernah berperang melawan penjajahan Belanda, termasuk Perang Jagaraga bersama Patih Jelantik.
“Sejak kecil para putra Puri Kaleran sudah dibekali cerita tentang perjuangan para leluhur melawan penjajahan. Dari situlah tumbuh rasa nasionalisme dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan,” kata Suryawisesa.
Semangat tersebut kemudian diwujudkan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Puri Kaleran disebut menjadi salah satu bagian dari gerakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Karangasem. Hampir seluruh putra Puri Kaleran turut mengambil bagian dalam perlawanan terhadap Belanda dan tentara NICA.
Baca Juga : Bursa Kerja Karangasem 2026 Buka 3.659 Lowongan, Peluang Kerja di Dalam dan Luar Negeri Terbuka Lebar
Paman A.A. Made Karang Candra Buana, Anak Agung Gde Rai, yang ketika itu menjadi Punggawa Abang, bahkan memilih meninggalkan jabatannya untuk mendukung perjuangan. Lahan pertanian miliknya di lereng Gunung Agung, kawasan Purasana hingga Tanah Aron, digunakan sebagai salah satu markas sekaligus tempat penyediaan logistik bagi pasukan pejuang.
Ketika pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai melakukan long march menuju Karangasem, kawasan tersebut menjadi bagian penting dari dukungan perjuangan.
A.A. Made Karang Candra Buana bersama para pemuda pejuang kemudian terlibat dalam sejumlah peristiwa perlawanan terhadap NICA. Di antaranya peristiwa Padang Bai, Desa Duda, Bukit Ababi, Desa Suter, hingga pertempuran Tanah Aron pada Juli 1946.
Pertempuran Tanah Aron pada 7 Juli 1946 menjadi salah satu catatan penting perjuangan kemerdekaan di Karangasem. Pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai berhasil memenangkan pertempuran melawan pasukan NICA.
Namun, perjuangan A.A. Made Karang Candra Buana berakhir tragis setahun kemudian.
Menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-II pada 1947, ia bersama pasukannya mempersiapkan kegiatan peringatan di Desa Poh, Budakeling. Di tengah persiapan tersebut, pasukan NICA melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
A.A. Made Karang Candra Buana bersama sejumlah pejuang, di antaranya Jaya Tirta, I Ketut Alit, I Wayan Sinta dan Kandi, gugur dalam serangan tersebut. Markas pertahanan para pejuang juga dibakar oleh pasukan NICA.
Saat gugur, A.A. Made Karang Candra Buana baru berusia sekitar 20 tahun. Ia gugur tepat sehari sebelum peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, 16 Agustus 1947.
“Beliau masih sangat muda, tetapi keberanian dan pengabdiannya untuk mempertahankan kemerdekaan luar biasa. Karena itu, perjuangannya tidak boleh hilang dari ingatan generasi sekarang,” ujar Suryawisesa.
Atas perjuangannya, berdasarkan catatan Kantor Administrasi Veteran Cadangan IX/25 Karangasem dan Surat Pernyataan Yayasan Kebaktian Proklamasi Daerah Karangasem, A.A. Made Karang Candra Buana kemudian diberikan pangkat Kapten secara anumerta.
Namanya juga diabadikan di Tugu Taman Pahlawan Margarana. Makam di Desa Poh, lokasi gugurnya bersama rekan seperjuangannya, I Wayan Sinta, menjadi salah satu penanda sejarah perjuangan kemerdekaan di Karangasem.
Penghormatan terhadap sosok pejuang muda tersebut kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Karangasem. Berdasarkan SK Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026 tertanggal 31 Maret 2026, Taman Budaya Kabupaten Karangasem di Amlapura ditetapkan menggunakan nama Taman Budaya Kapten A.A. Made Karang Candra Buana.
Bagi Puri Kaleran, penamaan tersebut bukan sekadar pergantian nama sebuah tempat. Lebih dari itu, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati generasi sekarang memiliki sejarah panjang dan pengorbanan besar dari para pejuang.
“Nama Kapten A.A. Made Karang Candra Buana harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Karangasem. Kemerdekaan tidak datang begitu saja, tetapi diperjuangkan dengan keberanian, pengorbanan bahkan dengan nyawa,” tegas A.A. Gede Suryawisesa. (tio/bfn)
