Utama  

Mebuug-buugan, Ritual Unik Sucikan Semesta di Kedonganan

Krama Kedongan melukan ritual mebuug-buugan, sebuah ritual mandi lumpur yang diyakini sebagai pembersihan diri dan pembersihan semesta. (Foto by : Team BFN/Nyoman Butur Suantara)

BADUNG—Puluhan pemuda Eka Santhi Desa Adat Kedongan, Kuta Selatan, Badung, berkumpul disisi timur desa, Jumat (8/3/2019) sore tadi. Sambil berpakaian adat madia, mereka berkekurumun di areal hutan bakau, untuk menjalani ritual mebuug-buugan (mandi lumpur).

Para tetua disana meyakini, selain untuk pembersihan diri, ritual mebuug-buugan itu bermakna sebagai pembersihan semesta. Tidak banyak sesaji yang dipersembahkan ritual. Pelaksanaannya cuku simpel, namun mengandung makna yang tinggi dibalik ritual yang dilaksanakan setiap ngembak geni (sehari setelah Nyepi Red).

Foto by : Team BFN/Wayan Parwata

Tokoh Masyarakat Kedonganan I Ketut Madra, mengatakan, tradisi mebuug-buugan sejatinya sudah ada sejak 1920-an. Namun, akibat letusan Gunung Agung, pada 1963 dan kemudian pembantaian pada 1965, tradisi ini pun berhenti. Tradisi ini mulai dibangkitkan sejak tahun 2015 lalu.

“Mebuug-buugan berasal dari kata buug yang artinya tanah atau lumpur. Mebuug-buugan berarti interaksi dengan menggunakan tanah atau lumpur. Tradisi itu dahulu hanya dilakukan kaum lelaki dengan bertelanjang bulat hanya kain yang digunakan dililit untuk menutupi kemaluan,” jelasnya.

Ritual mebuug-buugan dimulai ketika para pemuda berjalan sampai di tengah hutan bakau, di mana terdapat lumpur berwarna kecoklatan dengan tekstur liat.

Di hutan bakau itu, mereka saling melempar lumpur itu. Lumpur tidak hanya di oleskan pada tubuh sendiri tapi juga ke teman-temannya.

Mebuug-buugan manusia yang digambarkan tanah atau lumpur, dimaknai sebagai wujud Bhutakala atau kekotoran yang melekat pada manusia. Sebagai bagian dari tradisi mebuug-buugan, para peserta juga melakukan pembersihan diri. Setelah saling melumuri badan dengan lumpur, ratusan peserta dari anak-anak sampai orang tua, berjalan menuju sisi barat Desa Kedonganan di mana terdapat pantai berpasir putih.

“Pada dasarnya tradisi ini masih terkait Hari Raya Nyepi yang mengandung makna penyucian alam semesta,” terang Madra.

Foto by : Team BFN/Nyoman Butur Suantara

Tradisi mebuug-buugan juga mengingatkan, agar warga tetap menjaga lingkungan terutama keberadaan hutan bakau. Karena lokasi mebuug-buugan berada di tengah hutan bakau, maka warga mau tak mau harus menjaga hutan bakau tersebut. (ria)