Ngaben Massal Pauman Gede Desa Adat Timbrah, Urunan Sawa Hanya Rp 500 Ribu

ngaben-massal-pauman-gede-desa-adat-timbrah-urunan-sawa-hanya-rp-500-ribu
Prajuru Pauman Gede Desa Adat Timbrah menggelar rapat persiapan ngaben massal
banner 120x600

KARANGASEM, Balifactualnews.com-Krama Pauman Gede Desa Adat Timbrah, Karangasem, tahun ini kembali akan menggelar ngaben massal pada 21 Juni 2023. Prajuru Pauman Gede pun sudah membentuk Panitia Ngaben Massal 2023 dan sudah mulai melakukan berbagai persiapan, guna memastikan seluruh tahapan pelaksanaannya nanti dapat berjalan lancar.

Pelaksanaan Ngaben Massal di Pauman Gede ini, sering menjadi perhatian banyak pihak di Bali, karena mampu melaksanakan ngaben massal dengan beban biaya sedikit. Bahkan, nilai urunannya hanya Rp 500 ribu per sawa. Besaran nilai urunan ini sudah disepakati dalam Paruman Krama Pauman Gede bersama Panitia Ngaben Massal Pauman Gede di Bale Pauman Gede, Jumat (24/3/2023).

Ketua Panitia Ngaben Massal 2023 Nengah Sukada, S.H., saat ditemui usai paruman, mengatakan besaran nilai urunan disepakati Rp 500 ribu per sawa, setelah melakukan kalkulasi total biaya yang akan dihabiskan dalam pelaksanaan ngaben massal nanti. Berbeda dengan pelaksanaan ngaben massal di tempat lain di Bali, Sukada menegaskan bahwa pelaksanaan ngaben massal di Pauman Gede sejak dulu sudah dilaksanakan dengan sistem “tanggung renteng”. Artinya, saat ngaben massal, bukan hanya pemilik sawa yang dikenakan urunan, melainkan seluruh krama pauman, dengan total 372 KK.

“Sistem tanggung renteng ini membuat beban pemilik sawa menjadi jauh lebih ringan. Karena seluruh krama Pauman Gede merasa punya kewajiban untuk mensukseskan pelaksanaan ngaben massal ini sampai tuntas. Jadi, masalah biaya dibebankan kepada seluruh krama. Kekompakan dan kebersamaan seperti ini selalu kami bangun, agar semua krama merasa memiliki. Sehingga beban berat soal biaya, menjadi terasa lebih ringan,” kata pensiunan Polisi ini.

Sukada mengaku sering mendapat pertanyaan dari tokoh masyarakat luar, perihal bagaimana sistem pelaksanaan ngaben massal, sehingga mampu menekan beban dari pemilik sawa. Karena pelaksanaan upacara ngaben pada umumnya selalu menelan biaya tinggi hingga ratusan juta. Maka, dia pun menjelaskan sistem tanggung renteng ini diakui sangat efektif dalam mengatasi masalah biaya tinggi dalam ngaben massal. Selama empat kali dia menjadi Ketua Panitia Ngaben Massal Pauman Gede, dia melihat seluruh krama selalu antusias dan merasa punya tanggung jawab yang sama, meski tidak memiliki sawa.

Setelah dalam Paruman Krama Pauman Gede disepakati mengenai biaya urunan, selanjutnya Sukada menambahkan Panitia Ngaben Massal 2023 akan kembali menggelar pasangkepan khusus dengan krama pemilik sawa, pada 28 Maret 2023 nanti, untuk membahas mengenai teknis pelaksanaan ngaben massal, termasuk apa saja yang harus dipersiapkan dari persiapan sampai pelaksanaan ngaben massal. Ini penting untuk dijelaskan lebih detail, agar dalam perjalanannya nanti tidak terjadi mis komunikasi yang dapat menghambat pelaksanaan ngaben massal.  Saat ini, dari data panitia, tercatat total ada 46 sawa dan 27 ngelungah.

Pihaknya pun berharap partisipasi krama Pauman Gede maupun krama Desa Adat Timbrah pada umumnya, agar ikut serta mensukseskan agenda ngaben massal ini, sehingga nantinya senantiasa dapat terlaksana dengan lancar, sebagaimana pelaksanaan ngaben massal sebelumnya pada lima tahun lalu yang berjalan cukup sukses, berkat koordinasi, komunikasi dan semangat yang sama, dalam menyelesaikan seluruh tahapan ngaben massal sampai tuntas. (*)