________________________________________________________________________________
BADUNG – Sebuah karya seni anyaman bambu berbentuk gurita raksasa yang menghiasi kawasan pesisir Pantai Berawa Pura Perancak Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, membuat masyarakat kagum yang hadir ke tempat itu, jelang Berawa Beach Art Festival yakni Deep Blue Spirit, pada 23-26 Mei 2019.
Direktur Artistik Berawa Beach Art Festival, Ketut Putrayasa menerangkan, dipilihnya gurita tersebut karena merupakan biota laut yang identik dengan daerah pesisir dan dari sejarah, laut sejatinya menjadi pusat peradaban dan di Bali juga ada sebuah konsep “Nyegara Gunung”, sebagai simbol konsep pertemuan lingga dan yoni.
“Konsep Nyegara Gunung ini pun diambil dengan menyeimbangkan hal tersebut. Sehingga pihaknya merancang di daerah pesisir yang artinya tidak didaratan dan tidak di laut,” ucapnya.
Menurut dia, gunung dan segara (laut) itu merupakan sumber penghidupan dari mahluk hidup. Sepeti tumbuh-tumbuhan binatang dan manusia mempunyai sumber kehidupan di gunung. Sedangkan segara, yang mengelilingi daratan memenuhi hampir seluruh permukaan bumi, dan dilaut juga ada kehidupan makhluk hidup sepeti gurita ini.
Pria lulusan ISI Denpasar itu memaknai gurita secara artistik, selain bentuk yang berubah-ubah, gurita juga sangat dinamis, sehingga korelasikan dengan keadaan di pesisir yang sangat persis atau makhluk cerdas, juga ada hubungan dengan pemerintah. Sepeti sistemnya sudah menggeruita.
Sehingga menurut dia, gurita itu hanya metafora, yang memberikan makna bahwa sebenarnya laut memiliki potensi besar yang perlu diangkta ke depannya.
“Selama ini kebudayaan pesisir terlupakan, semenjak kerajaan Sriwjaya runtuh, kedatangan para colonial justru semua perababan yang ada di nusantara bertumpunya di daratan. Padahal kalau dilihat dari sejarah, kebudayaan berawal dari pesisir, termasuk dulu antar wilayah melalui jalur laut,” tuturnya.
Untuk ukuran instalasi gurita itu tingginya 20 meter dengan panjang 300 meter yang membentang di pesisir pantai, dimana bahan yang digunakan dari anyaman bambu karena elastis dan juga dinamis.
Anyaman bambu ini kita datangkan dari Gianyar. Bahkan kini sudah menghapiskan puluhan ribu bambu. Selain itu, bambu juga ramah lingkungan.
“Proses pembuatan karya ini pun sudah dari satu bulan lalu. Satu minggu dikerjakan di indoor (di bengkel) dalam pembuatan rangka dan tiga minggu dikerjakan langsung di outdoor atau pantai Berawa,” katanya.













