KARANGASEM, Balifactualnews.com — Masyarakat di wilayah Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, menjerit kekurangan air karena distribusi air minum dari Perumda Tirta Tohlangkir (PDAM) belum maksimal.
Kondisi tersebut diungkapkan anggota Komisi I DPRD Karangasem, Putu Deni Suryawan Giri dalam rapat kerja Pansus II yang dipimpin I Nyoman Mardana Wimbawa bersama Perumda Tirta Tohlangkir dan eksekutif Pemkab Karangasem, beberapa waktu lalu.
“Warga kami sejak beberapa bulan terus menjerit kekurangan air karena distribusi air PDAM belum maksimal. Memenuhi kebutuhan dasar ini, bahkan warga yang tinggal di daerah ketinggian harus membelinya dengan harga Rp500 ribu per tangki,” ungkap Deni.
Baca Juga : Perumda Tirta Tohlangkir Jawab Tudingan Sesat
Politisi Partai Gerindra, asal Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, itu berharap Perumda Tirta Tohlangkir bisa mencarikan solusi tersebut dengan mempercepat mengalirkan air baku Telaga Waja,” ucapnya.
Keluhan Deni itu langsung direspon Direktur Perumda Tirta Tohlangkir, I Komang Haryadi Perwata. Dihadapan Pansus II, pihaknya mengakui bahwa distribusi air PDAM ke wilayah Kecamatan Kubu sangat krodit. Selain disebabkan banyak jaringan pipa distribusi yang bocor, paceklik air bersih tersebut juga dikarenakan distribusi air PDAM ke Kubu masih memanfaatkan symber air bawah tanah (sumur bor).
“Menggunakan sumber ABT memang beresiko, ketika sumber air mengecil pasokan debit ke sumber ABT juga tidak maksimal. Kondisi ini membuat distribusi air minum di wilayah Kubu masih krodit,” ungkap Haryadi Parwata.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Haryadi Parwata mengaku sudah intens melakukan koordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS), dengah harapan air baku Telaga Waja secapatan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kubu.
“Semenjak penghapusan subsidi listrik dari pemerintah, tahun ini (2022) pendapatan kami terus mengalami penurunan karena pemanfaatan ABT untuk didistribusikan ke masyarakat di Kecaatan Kubu menggunakan tenaga listrik. Kami berharap Air Telaga Waja secepatnya bisa mengalir ke Kubu karena jauh lebih efektif dan efisien ketimbang menggunakan ABT,” pungkas Haryadi Parwata. (tio/bfn)













