Air yang Datang di Ujung Penantian

Tangis Syukur dari Sambilaklak untuk Karangasem

air-yang-datang-di-ujung-penantian
Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata saat menjingjing anak Sarmi yang masih balita

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Di bawah terik khas Kubu yang kering dan berdebu, Nengah Sarmi (60) berdiri lama tanpa berkata-kata. Pandangannya tertuju pada aliran air yang kini benar-benar nyata. Matanya berkaca-kaca, dadanya naik turun menahan haru yang tak sempat ia siapkan.

Di lengannya, seorang anak balita ia jinjing erat seolah ingin memastikan bahwa generasi berikutnya tak lagi mewarisi cerita panjang tentang kekeringan. Ketika Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata dan Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa menghampiri, kata-kata Sarmi tumpah begitu saja, berulang, lirih, dan jujur. “Terima kasih, Bapak… terima kasih.”

Hari itu bukan hari biasa bagi warga Juntal, Kecamatan Kubu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang penantian mereka, air bersih benar-benar mengalir ke wilayah yang selama ratusan tahun hanya menggantungkan hidup pada air hujan. Sesuatu yang bagi banyak orang dianggap biasa, di Kubu menjadi peristiwa besar bahkan bersejarah.

“Ratusan tahun kami berharap air bersih bisa masuk ke rumah. Baru sekarang harapan itu terwujud,” ucap Sarmi, dengan suara bergetar.

Tangis Sarmi adalah potret kegembiraan ratusan warga dari empat dusun Sambillaklak, Juntal Kelod, Juntal Kaje, dan Poh Tebel. Selama ini, mereka hidup dengan keterbatasan paling mendasar, yakni air bersih. Kubu pun lama dikenal sebagai barometer persoalan klasik Karangasem kemiskinan, keterisolasian infrastruktur jalan, dan krisis air yang seakan tak berujung.

Di penghujung tahun 2025, masyarakat Kubu menerima “kado” yang tak pernah mereka bayangkan datang secepat ini. Reservoir Juntal yang diresmikan kini menjadi sumber kehidupan baru, melayani kebutuhan dasar ribuan jiwa yang selama ini hidup dalam kekeringan dan ketidakpastian.

Bagi Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata yang akrab disapa Gus Par, menegaskan, air bersih bukan sekadar proyek atau infrastruktur. Air adalah hak dasar dan ukuran kehadiran negara di tengah warganya. Kesadaran itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Karangasem mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Telaga Waja, jaringan perpipaan berskala besar sepanjang lebih dari 70 kilometer yang menembus medan terjal dan topografi ekstrem.

“Sudah lama masyarakat menantikan air bersih. Selama ini hanya mengandalkan air hujan. Di akhir tahun ini, kita bersyukur mimpi itu akhirnya terwujud,” ujar Gus Par.

Namun bagi orang nomor satu di Gumi Lahar itu, aliran air di Kubu belumlah akhir cerita. Ia menyebut capaian ini baru langkah awal dari pekerjaan besar yang belum selesai.

“Ini baru tiga titik. Kalau masalah air di Kubu benar-benar tuntas, baru saya merasa bangga. Masalah air bersih di Karangasem wajib tuntas,” tegasnya.

Komitmen itu juga terlihat dari penanganan Rumah Pintar Muntigunung. Selama hampir 15 tahun, fasilitas ini tak dapat dimanfaatkan secara optimal akibat pompa air yang rusak. Awalnya, kebutuhan perbaikan diperkirakan Rp70 juta, namun bantuan CSR PDAM yang tersedia hanya Rp15 juta. Setelah dilakukan pengecekan menyeluruh, biaya riil ternyata membengkak hingga hampir Rp300 juta.

Di tengah keterbatasan, niat baik tetap berjalan. Gus Par kembali mengetuk banyak pintu, membangun komunikasi dan kolaborasi lintas sektor. Berkat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk yayasan sosial, sumur bor di Rumah Pintar akhirnya kembali mengeluarkan air bersihmenjadi simbol bahwa ketekunan bisa melunakkan kemustahilan.

Tahap selanjutnya, pemerintah daerah akan membangun jaringan perpipaan agar air bersih tersebut dapat langsung mengalir ke rumah-rumah warga di sekitarnya.

Sebagai solusi jangka menengah, Pemkab Karangasem juga menyiapkan langkah yang lebih berani: pemanfaatan sumber air danau di wilayah Kintamani, Bangli. Program yang didukung CSR Bank BPD Bali ini direncanakan mulai berjalan awal 2026 dengan skema kerja sama bersama PDAM.

Sistem gravitasi dipilih agar air dapat mengalir tanpa ketergantungan pada pompa dan biaya listrik yang tinggi. Dengan anggaran sekitar Rp1 miliar, bahkan terbuka peluang menghadirkan hingga tiga sumber air baru dari kawasan Danau Kintamani menuju wilayah Kubu.

Tak hanya itu, alokasi APBD sebesar Rp1 miliar per desa juga disiapkan khusus untuk mendukung penyediaan air bersih hingga ke pelosok Karangasem.

Di hadapan warga, Gus Par berpesan agar apa yang telah dibangun dijaga bersama.
“Apa yang sudah kita bangun mohon dijaga. Awasi jaringan pipa, jangan ada kebocoran atau sambungan liar, karena itu berdampak pada biaya operasional dan listrik,” pesannya.

Ungkapan syukur datang pula dari tokoh masyarakat setempat, I Made Sukerana. Baginya, air bersih adalah hadiah paling berharga yang pernah diterima warga Kubu.

“Pak Bupati dan Wakil sudah memberi kami hadiah air. Terima kasih. Kami siap melanjutkan dan menjaga program yang sudah dijalankan,” ujarnya.

Di Kubu, air bukan hanya soal aliran dari pipa. Ia adalah simbol kehidupan. Sejarah panjang ratusan tahun terasa seperti batu besar yang akhirnya terpecahkan. Dengan ada air, akan ada kehidupan.Dan hari itu, di tanah Kubu yang lama kering, kehidupan mulai menemukan jalannya kembali. (Ketut Parwata)