KARANGASEM, balifactualnews.com – Alih fungsi lahan sawah menjadi persoalan serius yang kini dihadapi Kabupaten Karangasem. Data dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (Distan) Karangasem mencatat, sepanjang tahun 2024, sedikitnya 161 hektar lahan sawah beralih fungsi, sebagian besar menjadi bangunan. Fenomena ini paling banyak ditemukan di Kecamatan Sidemen, wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi Karangasem.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Karangasem, Gede Suata Brata, mengungkapkan bahwa tren alih fungsi lahan sawah cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari kebutuhan perumahan, pembangunan fasilitas umum, hingga alasan ekonomi petani yang menjual lahan karena kesulitan mengelola sawah.
“Kami berharap petani dapat tetap mempertahankan sawahnya. Jangan sampai lahan produktif hilang hanya karena tergiur pembangunan. Saat pemerintah berupaya memperkuat ketahanan pangan, keberadaan sawah justru semakin berkurang,” ujar Suata Brata.
Menurutnya, saat ini Karangasem masih memiliki sekitar 7.022 hektar lahan sawah aktif. Namun, luas tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang mencapai lebih dari 522 ribu jiwa. Data produksi menunjukkan, hasil padi Karangasem hanya sekitar 65 ribu ton gabah kering giling per tahun. Jika diolah menjadi beras, jumlahnya hanya sekitar 39 ribu ton, jauh dibawah kebutuhan riil masyarakat.
Dengan konsumsi beras per kapita mencapai 111,88 kilogram per tahun, kebutuhan beras masyarakat Karangasem mencapai lebih dari 58 ribu ton per tahun. Artinya, terdapat defisit yang cukup besar. Untuk menutupinya, masyarakat tidak hanya mengandalkan beras, melainkan juga pangan lokal lainnya seperti jagung, ubi jalar, kacang tanah, hingga kedelai.
“Kalau dihitung dari semua jenis pangan, Karangasem sebenarnya masih surplus. Tetapi, untuk beras sebagai makanan pokok, kita tetap mengalami kekurangan,” jelasnya.
Fenomena alih fungsi lahan ini juga menimbulkan keprihatinan di kalangan pemerhati lingkungan dan pangan. Hilangnya lahan sawah produktif bukan hanya berdampak pada berkurangnya produksi pangan, tetapi juga dapat memengaruhi ekosistem pedesaan, mengurangi cadangan air, dan mempersempit lapangan kerja petani. Jika dibiarkan, Karangasem berisiko semakin bergantung pada pasokan beras dari luar daerah.
Pemerintah daerah melalui Distan Karangasem kini berupaya keras menekan laju alih fungsi lahan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memberikan benih gratis kepada petani untuk mendorong produktivitas. Target penanaman padi tahun ini ditetapkan lebih dari 15 ribu hektar, dengan harapan produksi bisa ditingkatkan sekaligus memotivasi petani agar tetap menggarap sawahnya.
Suata Brata menegaskan, menjaga sawah bukan hanya tanggung jawab petani, tetapi juga kepentingan bersama seluruh masyarakat. “Kalau sawah habis, generasi mendatang akan kehilangan sumber pangan dan identitas pertanian Karangasem. Ini harus kita sadari bersama,” tegasnya. (tio/bfn)













