Kelian Desa Adat Bugbug Jro Nyoman Purwa Ngurah Arsana didampingi Jro Ong Adi Susanto dan pimpinan prajuru sedang mengontrol evakuasi gardu listrik dan pohon yang tumbang di Sanghyang Ambu, Minggu (28/2/2021).
KARANGASEM, Balifactualnews.com – Kemunculan ular putih jenis phyton sebelum angin ngelinus (Puting Beliung) menerjang kawasan Sanghyang Ambu, mengejutkan beberapa warga yang sempat melihatnya. Beberapa menit kemudian gemuruh terdengar dari arah barat daya, beberapa warga yang sedang bekerja dalam pembuatan Gapura Sanghyang Ambu berhamburan menyelamatkan diri dan berlindung di area dalam Gapura yang sedang dibangun tersebut.
Tak ayal, fenomena alam angin ngelinus (Puting Beliung) yang menerjang beberapa kawasan di Karangasem itu, juga merobohkan gardu listrik besar di area Sanghyang Ambu yang sebelumnya akan direncanakan di pindahkan oleh pihak Desa Adat Bugbug untuk mempercantik kawasan yang nantinya akan menjadi ikon Tangga Menuju Moksha.
Saksi mata atas kejadian kemunculan ular putih dan terjangan angin ngelinus tersebut adalah Ni Ketut Latri(47) warga Desa Adat Bugbug. Latri yang sehari harinya berjualan di area itu menuturkan bagaimana terkejutnya ia saat melihat ular putih itu muncul. Dan saat amukan angin ngelinus terjadi ia dan anak anaknya segera berlindung menyelamatkan diri.
Baca juga : Pembangunan Gapura Sanghyang Ambu, Mampu Mengurangi Angka Pengangguran di Masa Pandemi
“Saya dan beberapa warga sedang duduk dibawah gazebo sempat melihat ular putih keluar dari Pura Pengayatan Bhatara Ayu Melanting melintas menuju ke barat, kemudian suara gemuruh angin datang dari barat daya, kami dan pekerja segera menyelamatkan diri, ada yang berlindung dibawah gapura, sedangkan saya berlindung dibawah sini,” ujarnya.
Menurutnya, munculnya ular itu sebagai pertanda akan datang mara bahaya seperti angin ngelinus agar kita waspada. “Untung ada gapura sanghyang Ambu itu, warga bisa berlindung di dalamnya,” imbuh Latri.
Sementara itu, Kelian Desa Adat Bugbug Jro Nyoman Purwa Ngurah Arsana saat mengevakuasi dilokasi dan didampingi tim hukum Desa Adat Bugbug, Jro Ong Adi Susanto dan staff pimpinan Prajuru lainnya mengatakan, kondisi cuaca alam yang ekstrem saat ini bisa saja memicu munculnya angin tornado kecil seperti tadi. Ia menghimbau seluruh warga Bugbug untuk tetap waspada dan mengenali gejala gejala alam. Terkait robohnya gardu listrik dan pohon sari yang dipercaya sebagai pohon bersejarah itu, Kelian Desa Adat Bugbug yang juga anggota DPRD provinsi Bali ini mengatakan, bahwa alam sedang melakukan prosesnya. Pohon bersejarah kepercayaan masyarakat tersebut akan kita coba tanam kembali, dan ia yakin bisa tumbuh lagi.
“Saat ini kami sedang melakukan pembangunan Gapura dan penataan area parkir di Sanghyang Ambu, tentu untuk mempercantik area ini kami berencana akan memindahkan beberapa tiang listrik agar tidak menghalangi pemandangan gapura, dan itu menelan biaya yang cukup tinggi, dengan robohnya tiang gardu oleh terjangan angin tadi, sepertinya alam dan Ida Sasuhunan sedang membantu melancarkan rencana kami. Ketika kita tulus ngaturang ayah, astungkara Ida Sasuhunan memberkati,” urainya.
Senada dengan Kelian Desa Adat Bugbug, Bendahara umum Desa Adat Bugbug, I Wayan Segara mengatakan, robohnya tiang gardu listrik yang rencana akan dipindahkan dengan biaya yang tinggi tersebut, saat ini oleh pihak PLN sedang dipindahkan ke sisi utara, dan untuk pemindahan tiang gardu tersebut pihak Desa Adat Bugbug tidak perlu mengeluarkan biaya lagi.
https://youtu.be/he4O3JKmfaw













