Menteri Risma Tinjau Pelatihan Kerajinan Slipper Hotel di Karangasem

Akui Kualitasnya Bagus, Juga Janji Bantu Pasarkan Produk

menteri-risma-tinjau-pelatihan-kerajinan-slipper-hotel-di-karangasem
Foto: Menteri Sosial Tri Rismaharini saat meninjau pelatihan pembuatan kerajinan slipper hotel yang melibatkan ibu-ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas di Banjar Tumbu Kaler, Desa Tumbu, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Selasa (26/3)
banner 120x600

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Menteri Sosial, Tri Rismaharini mengakui kualitas hasil kerajinan slipper hotel milik ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas di Karangasem. Pengakuan itu disampaikan saat meninjau pelatihan pemberdayaan masyarakat tentang pembuatan slipper hotel yang dipusatkan di balai masyarakat Banjar Dinas Tumbu Kaler, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem,Selasa (26/3).

Dalam kunjungannya, Mensos Risma secara langsung melihat ibu-ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas cara membuat serta memastikan kualitas slipper hotel tersebut yang terbuat dari bahan baku daun pandan kering benar benar sesuai yang diharapkan.

“Saya lihat kualitasnya cukup bagus, selain kualitas kecepatan juga penting, karena dengan kualitas yang baik serta kecepatan produksi maka akan mempengaruhi sisi pendapatan ibu – ibu. Dan ini harus terus dilatih agar produksinya bisa semakin cepat,” kata Risma.

Risma juga memastikan akan memfasilitasi permodalan dan memasarkan produk yang dihasilkan dari pelatihan tersebut. Bahkan rencananya, usai meninjau pelatihan ia akan bertemu secara langsung dengan para pengusaha hotel untuk membantu memasarkan kerajinan slipper hotel yang dihasilkan oleh ibu – ibu dan penyandang disabilitas tersebut.

“Ibu-ibu tidak usah khawatir. Saya bukan hanya membantu dalam hal pemasaran, kami juga akan bantu memberikan pelatihan keuangan, serta cara bertransaksi yang baik sehingga tidak mudah tertipu, ” imbuh Risma.
Selain meninjau pelatihan, Menteri Risma juga sempat melihat- lihat hasil kerajinan warga berupa tas berbahan dasar anyaman pandan. Pada kesempatan itu, Risma memberikan sejumlah masukan dari sisi kualitas produk agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi dipasaran.

Ni Wayan Reni, salah seorang peserta pelatihan, mengatakan, awal-awal pelatihan dia cukup kesulitan menjahit slipper hotel tersebut, tapi setelah beberapa kali mencoba, dia akhirnya mulai bisa dan berhasil menyelesaikan beberapa pasang slipper hotel tersebut.

“Usaha keras ternyata tidak menghianati hasil. Awalnya saya sangat kesulitan menjahit sandal model gini. Tapi setelah terus dicoba akhirnya berhasil. Tapi waktunya agak lama, 30 menit baru bisa menyelesaikan satu sandal,” ungkap Reni. (tio/bfn)