Daerah  

Meriah, Festival Musik Sahur di Jembrana

________________________________________________________________________________

JEMBRANA — Festival Irama Musik Sahur (FIMS) yang ke- 22 dilaksanakan Sabtu (1/6/19) malam, berlangsung meriha. Selain dihadiri pejabat pemerintahan yang diwakili Kadis Kebudayaan dan Pariwisata I Nengah Alit, festival tersebut juga dihadiri Jajaran Polres Jembrana, Kodim 1617 Jembrana dan masyarakat.

Tradisi ngotek atau irama musik sahur, memang sudah mengakar di Loloan. Untuk menjaga tradisi ngotek di Bulan Ramadhan ini, remaja atau muda mudi Loloan, melombakan irama musik sahur ini dengan mengitari kelurahan Loloan Barat- Loloan Timur, termasuk ke Kota Negara.

Lomba ini selain diikuti oleh remaja muslim dari Loloan juga disambut antusias beberapa desa lainnya yang ikut berpartisipasi dalam menyemarakkan lomba atau festival di Bulan Ramadhan ini.


Sebanyak 75 grup atau kelompok terdaftar mengisi lomba tradisi ini. Dari 75 peserta itu, kategori anak-anak 30 orang dan kalangan remaja atau dewasa sebanyak 45 orang. Tradisi Ngotek ini biasanya dilakukan untuk membangunkan warga yang hendak berpuasa di waktu sahur.

Dalam lomba ini, panitia penyelenggara membagikan, kategori musik yang bernuansa tradisional dan modern. Begitu pula penilaiannya dibagi antara kreteria anak-anak dan remaja atau dewasa.

Setiap kelompok atau grup terlihat begitu bersemangat, menabuh rebana dan memukul kentongan, sehingga menimbulkan harmonisasi bunyi. Tak kalah semangat, kalangan anak-anak juga bersemangat, sambil jalan membunyi alat-alat musik yang dibawanya.

Lafal shalawat dan doa pun juga dikumandangkan. Kegiatan lomba setahun sekali ini, menyedot para ribuan penonton. Tidak hanya di depan start, membludaknya penonton di sepanjang jalan, mulai dari Loloan barat, Loloan Timur dan sepanjang jalan Gatot Subroto Negara.

Ketua Penyelenggara FIMS Nizam Hazmi mengatakan, lomba ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di Bulan Ramadhan. Festival tahun ini, panitia menerima pendaftaran sebanyak 75 peserta atau grup.

Tidak hanya kelompok remaja atau anak di Loloan Barat dan Loloan Timur saja, tetapi juga dari beberapa kelurahan dan desa yang ada di Jembrana. Tidak hanya rebana, beberapa alat-alat tradisional seperti kentongan serta bentuk lainnya turut menghiasi irama musik sahur tahun ini.

Dia mengharapkan, dari tahun ke tahun Festival Irama Musik Sahur ini semakin dapat menunjukan intensitasnya dan lebih berjalan maksimal.


“Tentunya dengan festival ini dapat memotivasi kreativitas remaja dalam mengumandangkan gema shalawat di Bulan Ramadhan, yang dikemas dalam bentuk kesenian,” ujarnya.

Dia menambahkan dari 75 kelompok terdiri dari dewasa 45 kelompok dan anak anak sebanyak 30 kelompok. Setiap kelompok dibatasi hanya 17 orang. Sejumlah alat-alat tradisional dapat seperti rebana, gamelan, kentongan, bahkan ada juga yang gunakan jerigen, galon, timba dan alat alat lainnya.

Pesertanya berasal dari sejumlah desa yang ada di Jembrana, seperti Desa Cendikusuma Melaya, Desa Pohsanten Mendoyo, Desa Tegal Badeng Timur, Desa Tegal Badeng Barat, Desa Pengambengan, Loloan Timur, Loloan barat, desa Air Kuning dan beberapa desa lainnya.

“Hal penting yang menjadi kategori penilaia, yakni keseragaman, kerapian kostum dan harmonisasi alunan irama musik yang dimainkan para peserta,” pungkasnya. (dod/tio)