Nanda, Mengubah Urusan ASN dari Antrean Menjadi Layanan

nanda-mengubah-urusan-asn-dari-antrean-menjadi-layanan
Gede Nanda Dharmastya Utama, S.STP., M.A.P.,

Gede Nanda Dharmastya Utama

 

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Menjadi ASN inspiratif bukan sekadar tentang bekerja tuntas. Lebih dari itu, bagaimana pekerjaan mampu melahirkan perubahan yang membuat urusan menjadi lebih mudah, cepat, dan terukur.

Prinsip itu tercermin pada sosok Gede Nanda Dharmastya Utama, S.STP., M.A.P., Analis Sumber Daya Manusia Aparatur Ahli Muda pada BKPSDM Kabupaten Karangasem. Nanda berhasil menembus lima besar ASN Inspiratif yang digelar BKPSDM Karangasem, setelah menjalani tahapan wawancara bersama tim independen terhadap 10 kandidat terbaik.

Perjalanan Nanda sebagai aparatur dimulai pada 2016 ketika pertama kali diangkat sebagai PNS di Pemerintah Provinsi Bali. Pada 2024, ia berpindah status kepegawaian ke Pemerintah Kabupaten Karangasem dan ditempatkan di BKPSDM, khususnya pada bidang pengembangan kompetensi aparatur. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Tim Kerja Pengelolaan Manajemen Talenta ASN.

Bagi Nanda, pengembangan kompetensi bukan sekadar kewajiban administratif. Kompetensi menjadi modal penting untuk memastikan ASN mampu menjawab tuntutan pekerjaan sekaligus menjadi bagian dari sistem manajemen talenta.

“Pengembangan kompetensi itu bukan hanya soal memenuhi kewajiban ASN. Ini menjadi bagian penting dalam membangun talenta aparatur agar mereka memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan perkembangan zaman,” kata Nanda, Senin (2/11).

Dari kebutuhan itulah inovasi mulai dibangun. Salah satunya melalui tugas belajar online, yang memangkas proses administrasi bagi ASN yang ingin meningkatkan pendidikan.

ASN tidak lagi harus datang membawa berkas dari perangkat daerah yang jauh ke BKPSDM. Dokumen administrasi dapat dikirim secara daring sehingga proses menjadi lebih cepat dan efisien.

“Kami ingin pelayanan administrasi pengembangan kompetensi lebih sederhana. ASN yang berada jauh dari BKPSDM tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk mengantar berkas. Cukup dilakukan secara online, sehingga prosesnya lebih cepat,” ujarnya.

Namun Nanda tidak berhenti pada digitalisasi administrasi. Ia melihat persoalan yang lebih besar, yakni masih rendahnya pengembangan kompetensi ASN melalui jalur pelatihan.

Hasil pemetaan talenta menunjukkan masih banyak ASN yang belum masuk sebagai kandidat suksesor dalam sistem manajemen talenta. Salah satu penyebabnya adalah nilai pengembangan kompetensi yang masih rendah.

Persoalan itu kemudian dijawab dengan inovasi baru berupa instrumen pemetaan kebutuhan pengembangan kompetensi pada masing-masing perangkat daerah.

Dengan instrumen tersebut, kebutuhan pelatihan ASN dapat dipetakan lebih terarah. Bukan lagi sekadar mengikuti pelatihan karena ada kesempatan, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata organisasi dan individu.

“Kami ingin pelatihan itu benar-benar menjawab kebutuhan. Kalau kebutuhannya sudah terpetakan, pengembangan kompetensi ASN bisa lebih tepat sasaran. Dampaknya bukan hanya pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga pada nilai manajemen talenta dan kebutuhan organisasi,” tegasnya.

Bagi Nanda, inovasi pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling canggih membuat sistem. Ukurannya sederhana. apakah sistem itu membuat pekerjaan lebih mudah dan memberi dampak bagi organisasi.

“ASN tidak cukup hanya bekerja sesuai tugas, tetapi harus terus bertumbuh agar organisasi juga ikut bergerak,” ungkapnya. (tio/bfn)

Exit mobile version