KARANGASEM, Balifactualnews.com – Tebing sungai Taksu di Banjar Kemoning, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem memiliki kisah kelam dibalik tewasnya tiga orang penggali batu tabas, Senin (11/9).
Jauh sebelum naas merenggut nyawa tiga orang penggali batu tabas, tebing sungai Taksu juga sudah memakan tiga korban jiwa penggali pasir.
Informasi yang dihimpun, Selasa (12/9) menyebutkan, tebing yang ada di kawasan sungai Taksu bukan kali pertama menelan korban jiwa. Sekitar tahun 2009 silam peristiwa serupa juga pernah pernah terjadi tidak jauh dari lokasi kejadian saat ini. Jumlah korban juga sama tiga orang. Saat itu tiga orang penggali pasir sedang berteduh.
“Tahun 2009 tiga orang penggali pasir tertimbun longsoran saat berteduh dibawa tebih. Lokasinya juga tak jauh dari kejadian kemarin,” kata Perbekel Desa Buana Giri, I Nengah Diarsa.
Diarsa mengatakan, pihaknya sudah sangat sering memberikan himbauan kepada masyarakat agar berhati-hati melakukan aktivitas di tanah yang rawan longsor. Tapi himbauan yang dikeluarkan berlalu begitu saja, belasan masyarakat Banjar Kemoning tetap berprofesi menggali batu tabas secara manual.
“Kontrol juga sudah kami lakukan, tapi sifatnya hanya sewaktu-waktu saja. Namun demikian, himbauan sudah kerap diberikan pasca kejadian tahun 2009,” ungkapnya.
Mencari batu tabas, kata Diarsa, bukan pekerjaan yang mudah, karena membutuhkan keahlian khusus untuk bisa menentukan lokasi dan titik yang terdapat batunya.
“Sebelum menggali, biasanya mereka mengawali investigasi lokasi. Kalau ada batunya beraktivitas langsung melakukan penggalian bersama kelompok yang mereka miliki. Proses penggalian semua dilakukan secara manual,” tandas Diarsa. (tio/bfn)













