KARANGASEM, Balifactualnews.com — Pagi itu, pasar masih riuh. Di antara keranjang-keranjang berat yang diangkat di pundak, seorang remaja berjalan cepat. Bukan untuk sekadar mencari uang tapi untuk bertahan hidup. Ia adalah Wayan Tantra.
Tak banyak yang tahu, sebelum namanya dikenal sebagai penggerak ribuan pekerja migran, hidupnya pernah berada di titik paling sunyi. Diitinggal orangtua, hidup berpindah-pindah, dan menelan pahitnya disebut “anak buangan”.
Di usia 15 tahun, saat banyak remaja masih bergantung pada keluarga, Tantra yang asal Lingkungan Galiran, Kelurahan Subagan, itu justru harus berdiri sendiri. Bersama saudara-saudaranya, ia bertahan dalam keterbatasan. Siang mengangkat barang di pasar sebagai tukang suun, malam berjuang menjaga mimpi agar tetap hidup di bangku sekolah.
“Kadang malu… sampai harus bohong ke teman,” kenangnya, Minggu (5/4)
Namun rasa malu tak pernah cukup kuat untuk mematahkan tekadnya. Hidup membawanya berkelok. Sempat mencicipi bangku kuliah di Denpasar sambil bekerja sebagai SPG, namun lagi-lagi keadaan memaksanya berhenti. Ia kembali ke Karangasem, bekerja apa saja yang bisa dijalani, hingga akhirnya menemukan jalan sebagai terapis.
Tahun 2015 menjadi titik nekat. Tanpa banyak pertimbangan, ia berangkat ke Turki, mengejar harapan baru. Namun yang ia temukan justru sebaliknya.
Negeri orang tak selalu ramah. Ia terlantar. Visa bermasalah. Agen yang memberangkatkan menghilang. Nomor telepon diblokir. Ia sendirian tanpa arah, tanpa kepastian.
Selama berbulan-bulan, hidupnya menggantung. Banyak orang mungkin sudah pulang. Tapi tidak dengan Tantra.
Rasa malu untuk kembali dengan kegagalan justru berubah menjadi bahan bakar untuk bertahan. Ia jatuh, tapi menolak hancur.
Hingga akhirnya, kesempatan itu datang. Tahun 2016, ia mendapat pekerjaan sebagai terapis. Perlahan, ia berdiri lagi. Bukan hanya bekerja, ia belajar mengurus izin sendiri, membangun relasi, dan membaca peluang.
Dari situlah segalanya berubah.
Ia mulai membuka jasa pengiriman uang bagi pekerja Indonesia di Turki. Usaha kecil itu tumbuh besar, dibangun dari satu hal sederhana, yakni kepercayaan. Penghasilannya bahkan melampaui pekerjaan utamanya. Tak berhenti di sana, ia merambah usaha kebutuhan makanan Indonesia. Dunia yang dulu terasa kejam, perlahan berubah menjadi ladang kesempatan.
Namun, hidup kembali menguji. Pandemi COVID-19 memaksa segalanya berhenti. Para pekerja dipulangkan. Usahanya runtuh. Dan sekali lagi, ia harus kembali ke titik awal.
Pulang ke Bali bukan berarti akhir. Justru dari sanalah semuanya dimulai ulang.
Di tengah pariwisata yang lumpuh, Tantra berjualan apa saja, buah, nasi jinggo, apa pun yang bisa menghidupkan hari esok. Namun satu hal tak pernah padam adalah tekad.
Dari luka masa lalu terlantar di negeri orang, ditipu, dan nyaris kehilangan arah—ia menemukan panggilan hidupnya.
Ia mendirikan LPK Global Brilliant College di Karangasem. Bukan sekadar bisnis. Ini adalah perlawanan. Ia ingin memastikan tak ada lagi anak muda yang bernasib seperti dirinya berangkat tanpa arah, terjebak di negeri orang, atau menjadi korban jalur ilegal.
Hari ini, ribuan pekerja migran telah ia berangkatkan secara legal. Ia bukan lagi sekadar penyintas hidup, tapi pembuka jalan bagi banyak orang.
Dari seorang tukang suun di pasar, menjadi jembatan menuju dunia. Dibuang, dihina, bahkan hampir hancur
Wayan Tantra memilih satu hal yang tak semua orang berani lakukan, yakni bangkit, Bangki dan menaklukkan dunia.
Di tengah segala keterbatasan yang pernah membungkus hidupnya, Wayan Tantra kini berdiri bukan hanya sebagai pribadi yang berhasil keluar dari gelap, tetapi juga sebagai cahaya bagi banyak orang.
Baginya, sukses bukan sekadar soal angka atau pencapaian. Lebih dari itu, tentang bagaimana luka yang pernah ia rasakan tidak berhenti menjadi cerita melainkan berubah menjadi jalan bagi orang lain untuk tidak terjatuh di lubang yang sama.
Ia tahu persis rasanya ditipu, ditinggalkan, dan tidak punya pegangan. Karena itu, setiap langkah yang ia bangun hari ini selalu berangkat dari satu hal, yakni memastikan orang lain berangkat dengan aman, legal, dan bermartabat.
“Saya pernah ada di titik paling bawah. Tidak punya siapa-siapa, tidak tahu harus ke mana. Tapi dari situ saya belajar, kalau kita tidak bangkit, tidak akan ada yang menolong kita.” ujar Wayan Tantra.
Kini, ribuan orang telah ia bantu menembus batas, bekerja di luar negeri dengan cara yang benar. Sesuatu yang dulu hanya mimpi bagi dirinya, kini ia wujudkan untuk banyak orang. Namun bagi Tantra, perjalanan ini belum selesai.
“Saya tidak mau orang lain merasakan apa yang saya alami dulu. Cukup saya saja. Kalau sekarang saya bisa bantu orang berangkat dengan cara yang benar, itu sudah jadi kebahagiaan saya.”
Kisah Wayan Tantra bukan hanya tentang bangkit. Ini tentang membuktikan bahwa dari titik paling gelap sekalipun seseorang bisa memilih untuk menjadi terang. (tio/bfn)













