Ditempa Krisis, Diuji Waktu, dari 100 Ekor Ayam, Nyoman Sumadi Menapak Jalan Hingga Kursi DPRD

ditempa-krisis-diuji-waktu-dari-100-ekor-ayam-nyoman-sumadi-menapak-jalan-hingga-kursi-dprd
I Nyoman Sumadi, pengusaha sekaligus anggota DPRD kabupaten Karangasem Fraksi Golkar.

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Pagi di Desa Pesedahan, Karangasem, selalu dimulai dengan suara yang sama kokok ayam yang bersahut-sahutan. Dari tempat sederhana inilah, sebuah perjalanan panjang ditempa. Bukan perjalanan yang mulus, melainkan kisah tentang jatuh, bangkit, dan bertahan di tengah tekanan zaman.

I Nyoman Sumadi memulai segalanya dari titik yang nyaris tak diperhitungkan. Tahun 1993, hanya dengan 100 ekor ayam, ia melangkah keluar dari zona nyaman sebagai karyawan bank. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Gaji tetap yang kecil ditinggalkan, diganti dengan ketidakpastian yang menuntut keberanian.

“Dari awal saya hanya berpikir sederhana, kalau orang lain bisa berkembang, kenapa saya tidak mencoba?” kenang Nyoman Sumadi, Selasa (21/4/2026)

Pilihan itu segera diuji. Krisis demi krisis datang tanpa jeda. Tahun 1998 menjadi pukulan pertama, disusul serangan virus di tahun 2000, lalu flu burung yang kembali merontokkan harapan. Namun ujian paling berat datang saat pandemi Covid-19. Dalam satu hari, kerugian bisa mencapai Rp6 juta angka yang bukan sekadar hitungan, tetapi tekanan yang mengguncang mental.

“Yang paling berat bukan soal rugi uang, tapi bagaimana menjaga pikiran supaya tidak ikut runtuh,” ujarnya pelan.

Di titik-titik itulah, Sumadi belajar arti bertahan. Ia tidak menyangkal pernah berada di ambang keputusasaan. Namun ada satu keyakinan yang terus ia pegang: telur adalah kebutuhan yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

“Selama orang masih makan, telur pasti dicari. Itu yang membuat saya tetap bertahan,” katanya.
Perlahan, ia bangkit. Kandang yang sempat kosong kembali terisi. Dari ratusan, berkembang menjadi ribuan, hingga kini mencapai puluhan ribu ayam. Usahanya tak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh, membuka lapangan kerja dan menjaga pasokan pangan di tengah dinamika pasar.

“Dari 100 ekor ayam, saya belajar yang kecil kalau dirawat dengan sabar, pasti bisa jadi besar,” ungkapnya.

Namun perjalanan Sumadi tidak berhenti di dunia usaha. Tahun 2010, ia melangkah ke panggung yang berbeda dunia politik. Empat tahun kemudian, ia dipercaya menjadi anggota DPRD Karangasem. Kepercayaan itu bukan datang tiba-tiba, melainkan buah dari perjalanan panjang yang ditempa konsistensi dan ketekunan. Hingga kini, ia telah mengemban amanah selama tiga periode.

“Masuk politik bukan untuk meninggalkan usaha, tapi untuk memperluas manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Meski telah berada di kursi dewan, Sumadi tak pernah benar-benar meninggalkan kandangnya. Baginya, usaha dan pengabdian adalah dua jalan yang saling menguatkan. Dari kandang ayam, ia belajar tentang kesabaran. Dari politik, ia belajar tentang tanggung jawab yang lebih luas.
Kini, tantangan kembali berubah. Bukan lagi soal wabah atau pasar, melainkan sulitnya mencari tenaga kerja di tengah perubahan zaman. Generasi muda kian menjauh dari sektor peternakan, meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan usaha ini.

Namun Sumadi tetap berdiri dengan prinsip yang sama: konsistensi lebih penting daripada kecepatan.

“Saya tidak pernah mengejar sukses cepat. Saya hanya memilih untuk tidak berhenti,” katanya mantap.

Dari kandang ayam yang sederhana, ia membuktikan satu hal bahwa hidup bukan tentang menghindari krisis, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski berkali-kali diuji.
“Kalau hidup ini saya rangkum, sederhana saja: tetap jalan, walaupun pelan, asal jangan berhenti,” tutupnya.(ketut parwata)